JAKARTA (Pos Sore) — Banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berlomba-lomba ingin berubah status menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menyusul tawaran pemerintah yang memungkinkan hal itu. Namun, tawaran ini tampaknya tak berlaku bagi Sekolah Tinggi Ilmu Adminstrasi Mandala Indonesia (STIAMI). Perguruan tinggi ini tetap memilih menjadi PTS.
“Harus diakui beban yang ditanggung perguruan tinggi swasta jelas berkurang jika berubah menjadi PTN karena semuanya akan diambil alih oleh pemerintah,” ujar Ketua STIAMI, Wahyudin Latunreng, di sela Dies Natalis ke-32 STIAMI bertajuk ‘Semarak Dies Natalis’, di Jakarta, Selasa (27/1).
Dalam pandangannya, perubahan PTS menjadi PTN membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Mulai dari masalah SDM, pengelolaan uang hingga pengelolaan kegiatan pengabdian masyarakat. PTN selalu terikat dengan aturan birokrasi dan itu membuat PTN menjadi tidak bebas.
“Kami ingin tetap memiliki wewenang dan kekebasan dalam mengelola kampus. Itu makanya kami memilih untuk tetap menjadi swasta. Kalau tetap swasta, kami bebas berkreasi tanpa harus menunggu ijin pemerintah, kecuali terkait regulasi yang memang harus kami taati,” katanya.
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang administrasi, pajak dan bisnis, STIAMI akan tetap berkomitmen mengembangkan program studi unggulan tersebut. Meski bentuk tantangan ke depan jauh lebih berat.
Ia tak menampik, saat ini banyak perguruan tinggi yang mengubah haluannya demi untuk menyesuaikan perkembangan jaman dan tuntutan dunia kerja. Tetapi perubahan tersebut justeru membuat perguruan tinggi menjadi sulit mengakar atau mendarahdaging dengan masyarakat. Perguruan tinggi yang berhasil menanamkan image baik, tentu akan mudah dikenali oleh masyarakat.
“Kompetitor kita, sebelumnya PTS, ya sekarang PTN. Tetapi bukan kerhasilan dari menghasilkan lulusan, melainkan bagaimana lulusan STIAMI mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang hina kecuali jika pekerjaan tersebut tidak mengandung nilai,” tandasnya.
Ketua Majelis Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Mansyur Ramli, mengatakan, berubah dari PTS menjadi PTN saat ini sangat besar kemungkinannya. Terlebih Menristek Dikti sudah memberikan sinyal tidak akan ada lagi dikotomi negeri dengan swasta.
“Tetapi semua PTS memiliki kebebasan untuk memilih, apa tetap dalam kelola yayasan atau dikelola pemerintah. Tentu dengan berbagai macam konsekuensinya,” tandas Mansyur dalam kesempatan yang sama.
Mansyur pun meminta di usia ke-32, STIAMI yang memiliki kampus di Depok, Lenteng Agung, Bekasi, dan Jakarta, ini tetap berkomitmen menjadi PTS dengan keunggulan ilmu administrasi, ilmu bisnis dan ilmu pajak. (tety)
