JAKARTA (Pos Sore) — Dosen IAIN Salatiga Dr. Aji Nugroho, meminta berbagai pihak untuk tidak melupakan sejarah kelam pemberontakan PKI yang telah membantai tokoh-tokoh bangsa ini, termasuk juga para ulama. Sangat jelas PKI bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 karena mengajarkan atheisme.
Ia lalu menyorot majalah kampus ‘Lentera’ terbitan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga yang memuat judul cover ‘Salatiga Kota Merah’ edisi Oktober 2015. Cover majalah ini menggambarkan massa PKI yang membawa bendera berlambangkan ‘palu arit’.
Majalah ini pun menuai protes terutama dari kalangan umat Islam, yang dinilai telah menciderai wajah kota Salatiga yang selama ini sudah baik dan dikenal agamis. Ketika Lentera menerbitkan edisi tersebut, beberapa daerah langsung pro aktif mencounter dengan memasang spanduk ‘Salatiga Kota Hijau’.
Meski akhirnya majalah tersebut sudah dibreidel oleh rektorat kampus, Aji mengingatkan masyarakat jangan terkecoh dengan isu demokrasi dan HAM yang digunakan untuk mewadahi komunisme di Indonesia. Karena bagaimana pun paham komunisme jelas melanggar demokrasi dan HAM.
“Ideologi Pancasila adalah ideologi paling tepat di Indonesia yang masyarakatnya multi kultur, agamis dan masih menjunjung tinggi adat ketimuran.” tandasnya dalam satu diskusi bertema ‘Menyikapi Isu Komunisme di Wilayah Salatiga dan Sekitarnya’, di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (20/11) malam, yang juga dihadiri Pemred Majalah Lentera Bima Satria Putra dan tim redaksi.
Muhammad Hanif, M. Hum, pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, menambahkan, pesantren sendiri sudah terlebih dulu menentang komunisme bahkan sebelum era kemerdekaan. Tokoh agama, tokoh bangsa, perumus Pancasila & pembukaan UUD 1945 juga menjunjung tinggi nilai-nilai agama .
“Para ulama kita sejak dulu sudah melarang wabah komunis menyebar di Indonesia. Ideolog komunis bukan saja berlawanan dengan ajaran Islam khususnya dan agama-agama lain,tetapi juga bentuk serangan terhadap hidup keagamaan pada umumnya,” katanya.
Karenanya, ia mengingatkan generasi muda Islam harus kembali membuka catatan tentang kegigihan umat Islam melakukan perlawanan terhadap komunis. (tety)

