04/05/2026
Aktual

Jangan Kucilkan Penderita Kusta!

JAKARTA (Pos Sore) — Masalah kusta di Indonesia masih sarat dengan stigma. Tak heran, masalah ini pemerintah kesulitan dalam pencarian kasus kusta dan tatalaksana yang tepat. Padahal, sebenarnya penyakit kusta dapat disembuhkan tuntas tanpa penampilan yang menakutkan dan kecacatan.

“Kecatatan yang terlihat pada penderita kusta seringkali tampak menyeramkan sehingga menyebabkan perasaan jijik dan ketakutan berlebihan terhadap penderita itu sendiri atau lepraphobia,” kata Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, pada Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia 2015 bertema ‘Hilangkan Stigma! Kusta Dapat Disembuhkan dengan Tuntas’, di gedung Kementerian Kesehatan, Senin (26/1).

Kusta yang ditemukan sedini mungkin dengan pengobatan yang cepat dan tepat dapat disembuhkan dengan meminimalisasi kecacatan. Jika terlambat ditemukan dan diobati dapat menimbulkan kecacatan permanen.

Sayangnya, meskipun penderita kusta telah menyelesaikan rangkaian terapi dengan minum obat atau release from treatment (RFT), status predikat kusta tetap melekat pada dirinya seumur hidup.

Status predikat inilah yang menjadi dasar permasalahan pskilogis pada penderita. Penderita merasa kecewa, takut, dan duka mendalam terhadap keadaan dirinya, tidak percaya diri, malu, merasa tidak berharga dan berguna, serta kekhawatiran akan dikucilkan.

Opini masyarakat juga menyebabkan penderita kusta dan keluarganya dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat. Stigma dan diskriminasi ini juga dalam bentuk penolakan di sekolah, di tempat kerja, dan dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan. Padahal, OYPMK utamanya yang memiliki kecacatan sangat bergantung secara fisik dan finansial kepada orang lain. Yang pada akhirnya berujung pada kemiskinan.

“Masalah yang bisa ditimbulkan dari penyakit kusta, bukan saja masalah medis tetapi juga masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan,” tandas menkes.

Karenanya, dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita maupun masyarakat. Penderita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya agar dapat berdaya dalam menolong dirinya sendiri, bahkan orang lain. Dan, masyarakat diharapkan dapat mengubah pandangannya serta membantu penderita maupun OYPMK agar tetap sehat dan mampu menjaga kesehatannya secara mandiri.

“Jadi kalau misalnya mereka sudah terdiagnosis dengan kusta, mereka tidak boleh takut, mereka menyadari bahwa penyakit ini bisa tidak menularkan kepada orang lain dengan patuh dalam minum obat. Kan obatnya ada, obatnya gratis. Yang kita coba pikirkan bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat dan bisa bekerja seperti manusia yang lainnya. Saya kira ini persoalan – persoalan sosial yang kita hadapi,” ujar menkes. (tety)

Leave a Comment