JAKARTA (Pos Sore) – Di Indonesia berdasarkan data estimasi WHO tahun 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3/100.000 populasi. Angka ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang ‘hanya’ 1,6/100.000 populasi.
Namun, Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan dr. Eka Viora, Sp.KJ, mengakui, data secara nasional mengenai bunuh diri belum terkumpul secara resmi. Banyak kendala, termasuk pencatatan dan pelaporan di failitas pelayanan kesehatan.
“Laporan yang cukup baik adalah kasus kematian yang diduga bunuh diri dan dilaporkan kepada kepolisian,” katanya pada temu media dalam rangka Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2015 bertema ‘Mencegah bunuh diri: Mengulurkan tangan dan menyelamatkan jiwa’, di Jakarta, Jumat (11/9).
Pada 2012, Mabes Polri mencatat 981 kasus mati karena bunuh diri dan sebanyak 921 kasus pada 2013, dengan rasio berkisar 0,4-0,5 kasus/100.000 penduduk. Populasi yang masih sangat jauh di bawah angka estimasi WHO.
Dikatakan, permasalahan dari rumah sakit hingga individu masyarakat yang enggan didata menjadi penyebab utama mengapa Kemenkes belum bisa mendata secara lengkap kasus bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri.
“Kalau kita cari data di rumah sakit, sangat jarang disebutkan sebagai tindakan bunuh diri, tetapi lebih sering disebut keracunan makanan, overdosis atau kecelakaan, padahal itu adalah bentuk upaya bunuh diri. Keluarga malu kalau ada yang meninggal karena bunuh diri,” paparnya.
Meski begitu, bukan berarti Kemenkes berdiam diri. Maraknya kasus bunuh diri ini sebenarnya sudah direspon pemerintah dengan membuat layanan hotline kesehatan jiwa 500-454 sejak 2010. Melalui hotline ini diharapkan, masyarakat dapat berkonsultasi mengenai perilaku-perilaku yang mengarah pada upaya bunuh diri sehingga upaya bunuh diri dapat dicegah.
Hotline 500-454 merupakan layanan konseling melalui saluran telepon yang dibuka oleh Kemenkes pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10-10-2010. Siapapun yang ingin bertanya maupun sekedar menyampaikan keluhan seputar beban hidup akan dilayani 24 jam/hari.
Dibukanya layanan hotline itu karena masyarakat Indonesia kurang peduli terhadap masalah kesehatan jiwa. Tidak semua orang dengan masalah mental mau datang ke pelayanan kesehatan. Di samping itu, mereka yang sudah tahu dengan kondisinya terkadang tidak mengerti apa yang harus diperbuat.
“Sayangnya, masyarakat menelepon ke hotline center itu lebih banyak menanyakan informasi di luar kesehatan jiwa. Bertanyanya mengenai BPJS atau rumah sakit yang melayani BPJS serta kamarnya.. Apakah karena hotline itu tertulisnya kesehatan jiwa, bukan bunuh diri? Sehingga banyak yang belum memanfaatkannya secara optimal,” katanya.
Ia menilai masyarakat belum terbiasa berkonsultasi kepada para ahli. Sebagian besar orang yang berniat bunuh diri lebih memilih diam dan memendam masalahnya sendiri.
Karenanya, pihaknya berharap, puskesmas sebagai garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif, juga dapat mengatasi masalah kesehatan jiwa. Terlebih dalam regulasi telah disebutkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) juga harus bisa menangani masalah kesehatan jiwa. Namun nyatanya kapasitas tenaga medis di tiap FKTP berbeda-beda.
“FKTP sebagai garda terdepan seharusnya bisa menjadi tempat konsultasi pertama orang-orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Sebab itu pelatihan sangat penting agar tenaga medis benar-benar punya kemampuan mengatasi masalah-masalah dan gejala-gejala terkait kesehatan jiwa, terutama dalam upaya tindakan bunuh diri,” tambahnya.
Kemenkes juga melakukan deteksi bunuh diri di Indonesia. Salah satunya dengan memberikan pelatihan khusus bagi para dokter agar bisa langsung mendiagnosis pasiennya.
“Kapasitas tenaga di Puskesmas itu berbeda. Kemampuan mereka untuk mendiagnosis penyakit berbeda sehingga kita membuat pelatihan untuk mereka agar bisa deteksi dini. Tapi setiap tahun kita hanya bisa memberikan dana ke provinsi, Kemenkes tidak bisa memberikan pelatihan langsung,” katanya.
Selain itu, pihak Kemenkes juga sedang bekerja sama dengan WHO dan pihak kepolisian RI untuk dapat mendata penyebab-penyebab bunuh diri di Indonesia. (tety)
