11.7 C
New York
29/04/2026
AktualEkonomi

Jadikan Pemagangan Ke Jepang Sebagai Ajang Belajar

JAKARTA (Pos Sore) — Pemerintah Terus berupaya meningkatkan jumlah peserta program pemagangan ke Jepang. Namun peluang ini harus dimbangi dengan kompetensi dan keterampilan agar sesuai dengan kebutuhan industri di sana.

Magang di Jepang menjadi momentum yang baik bagi para pemerintah daerah untuk terus mendorong dan menyiapkan generasi mudanya ikut pemagangan di Jepang.

Direktur Pemagangan Kemnaker, Asep Gunawan membenarkan hal itu dan menambahkan pernyataan itu pernah dilontarkan Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri dalam sambutannya pada acara Penandatanganan Komitmen Program Pemagangan ke Jepang Antara Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan CEO IM Jepang di Bengkulu belum lama ini.

Data di Kemnaker menunjukkan tercatat telah lebih dari 68.450 orang peserta pemagangan yang telah diberangkatkan ke luar negeri. Sekitar 48.389 orang telah kembali dan 20.061 orang peserta masih mengikuti program pemagangan di luar negeri, terutama di Jepang.

Hanif pada kesempatan itu berujar pemerintah Indonesia melalui Kementerian yanhg dipimpinnya terus mendorong berbagi upaya peningkatan kompetensi masyarakat Indonesia. Baik untuk angkatan kerja lama maupun angkatan kerja baru.

Upaya peningkatan kompetensi ini dinilai Menteri Hanif sebagai terobosan nyata untuk meningkatkan kompetensi SDM Indonesia. Dengan adanya kompetensi yang terakui, masyarakat khususnya pemuda dapat masuk ke pasar kerja.

Ketika ditanya soal program pemagangan, Asep Gunawan mengatakan program pemagangan bukanlah program yang berorientasi pada upah. Namun, pemagangan adalah bagian dari sistem pendidikan dan pelatihan kerja. Untuk itu, pemagangan ke luar negeri seperti ke Jepang harus diniati sebagai belajar. Peserta pemagangan harus menguasai sisi keilmuan maupun etos kerja dan produktitasnya.

Sehingga sekembali ke Indonesia, para peserta pemagangan bisa berwirausaha atau bekerja di perusahaan. Peserta magang juga diharapkan mampu menularkan kebiasaan positif berupa etos kerja dan kompetensi yang tinggi sebagai kontribusi kepada perusahaan dimana dia bekerja. Sebab produktivitas setiap tenaga kerja akan berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan. (hasyim)

Leave a Comment