15.8 C
New York
04/05/2026
AktualEkonomi

Inflasi AS, Anis Ingatkan Pemerintah untuk Jaga Stabilisasi Harga

JAKARTA (Pos Sore) — Inflasi Amerika Serikat (AS) diberitakan melonjak 9,1 persen di Juni 2022. Hal ini dinilai akan berdampak kepada ekonomi Indonesia.

Sejumlah pihak menekan Bank Indonesia agar segera menaikkan suku bunganya untuk menyelamatkan diri dari dampak inflasi AS.

Anggota komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Anis Byarwati, membenarkan informasi tentang kondisi lonjakan inflasi AS tersebut.

“Ya, memang benar tentang kondisi lonjakan inflasi AS pasca terjadinya perang Ukraina dan Rusia. Tingginya inflasi AS tahun ini tentu berdampak ke beberapa negara termasuk ke Indonesia,” kata Anis di Jakarta, Kamis 14 Juli 2022.

Menurutnya, inflasi di AS tersebut akan berkaitan erat dengan kenaikan suku bunga. Rencana The Fed menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi inilah, yang dapat mendorong kenaikan dollar AS, memicu capital outflow, dan juga kenaikan harga komoditas.

“Yang nantinya akan berdampak pada kenaikan inflasi di negara kita,” kata Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI ini.

Namun, ia menilai di sisi lain, ada keuntungan yang bisa diraih oleh Indonesia. Terutama untuk kenaikan komoditas seperti batu bara dan sawit.

“Ini akan menguntungkan bagi Indonesia karena kita adalah negara eksportir komoditas tersebut. Tapi untuk minyak mentah akan berbeda karena kita negara importir,” jelas Anis.

Anis menekankan saat ini yang paling penting adalah bagaimana pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Inflasi akan berdampak pada kenaikan harga, yang saat ini tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan, utamanya bagi kalangan menengah ke bawah.

“Kondisi masyarakat kita saat ini sedang dalam masa pemulihan akibat dampak pandemi, dan sangat disayangkan masyarakat harus langsung dihadapkan pada melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok yang akan semakin menurunkan daya beli,” lanjutnya.

Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan ini menegaskan pemerintah harus menjaga stabilitas harga BBM dan berupaya keras untuk tidak menaikkan BBM, listrik dan gas.

“Karena hal ini akan semakin memberatkan beban masyarakat. Apalagi dengan PPN yang baru saja naik menjadi 11 persen,” ujarnya.

Pemerintah juga harus meningkatkan keberpihakan pada UMKM termasuk usaha ultra mikro, pemberian subsidi bagi petani dan nelayan sebagai salah satu pengendali inflasi.

Politisi senior PKS ini mengingatkan, satu hal yang harus dicermati oleh Pemerintah adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Ketergantungan impor selain memicu naiknya inflasi juga dapat memperparah depresiasi nilai tukar rupiah. Untuk itu, sangat penting upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pada potensi dalam negeri.

Termasuk komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan yang tidak hanya diarahkan untuk mencapai kecukupan akan pangan, tetapi lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian dan kedaulatan pangan.

“Jadi, cinta produk dalam negeri tidak hanya menjadi slogan, tetapi secara nyata diwujudkan dalam setiap aspek kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” tutupnya.

Leave a Comment