06/05/2026
Aktual

Industri Sawit Disetarakan dengan Industri Tembakau dan Alkohol, Ini Sikap Cendekiawan Sawit Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Cendekiawan Sawit Indonesia menolak penyetaraan Industri Kelapa Sawit dengan Industri Tembakau dan Alkohol. Penolakan ini terkait artikel yang dipublikasikan secara on-line pada Bulletin of the World Health Organizrevie (WHO); Type: Policy & practice, pada 8 Januari 2019.

Dalam artikel berjudul ‘The Palm Oil Industry and Noncommunicable Disesae’, dengan penulis Kadandale S, Marten R, dan Smith R, itu Cendekiawan Sawit Indonesia jelas tidak bisa menerima artikel tersebut.

“Bahwa artikel yang dipublikasikan pada Buletin WHO tersebut, bukan studi yang dilakukan oleh WHO, bukan pula kebijakan atau sikap resmi dari WHO,” tegas Darmono Taniwiryono dari Cendekiawan Sawit Indonesia, di Jakarta, kemarin.

Di samping itu, lanjutnya, penerbit paper tersebut (WHO) menyatakan tidak bertanggung jawab atas isi yang ada di setiap paper yang diterbitkan.

Paper tersebut juga ditulis bukan oleh peneliti sawit. Metode yang digunakan dalam penulisan paper tersebut menggunakan pendekatan situasi data sekunder yang terlihat tidak sesuai dengan konten yang disadur.

Cendekiawan Sawit Indonesia juga menegaskan, paper tersebut ditulis tidak menggunakan data yang berimbang antara dampak positif dan dampak negatif akibat konsumsi minyak sawit.

Meski penerbitan paper tersebut melalui peer-reviewed namun tidak diketahui apakah reviewer pada paper tersebut adalah peneliti sawit atau bukan. Sehingga paper yang dihasilkan melahirkan paper yang bias.

“Setelah melakukan pengkajian yang mendalam terhadap paper tersebut, Kami meminta Dewan Redaksi Penerbitan tersebut untuk mencabut tulisan yang saat ini masih berupa terbitan online tersebut,” tandasnya.

Pihaknya juga mendorong seluruh stakeholder sawit untuk turut menyukseskan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Selain itu, mengajak peneliti sawit Indonesia untuk lebih banyak menulis pada jurnal-jurnal internasional untuk dapat mengemukakan fakta-fakta sawit sesungguhnya.

“Kami juga mengajak awak media untuk lebih mengedepankan objektivitas dalam memberitakan informasi pada khalayak terutama terkait isu kelapa sawit bukan sekedar mempertimbangkan efek viral semata yang kemudian dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat,” tutupnya. (tety)

Leave a Comment