JAKARTA (Pos Sore) –Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka,Kementerian Perindustrian Muhdori mengungkapkan, diskon beban KWH (Kilo Watt Hour) listirk yang diberikan PT PLN direspon positif kalangan industri. Hanya saja, ada keberatan dari industri garmen karena ada kelebihan ketika beban puncak dilakukan.
“Ada keberatan dari dinstri garmen. Karena mereka mengalami kelebihan penggunaan saat beban puncak. “Garmen agak spesifik, kerja saat siang terang. Tetapi kalau malam akan memengaruhi kualitas dari produk tekstil. Garmen kesulitan menggunakan listrik malam.”
Menurut Muhdori, sektor tekstil mendapatkan diskon dari KWH awal dan kelebihan daya penggunaan. Hal ini didapat setelah dilakukan negosiasi dengan PT PLN. Sebenarnya PLN sudah komitmen, hanya ada penafsiran yang tidak sesuai, pertemuan antara Kemenperin, API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) dan PT PLN.
“Ada keberatan dari dinstri garmen. Karena mereka mengalami kelebihan penggunaan saat beban puncak. “Garmen agak spesifik, kerja saat siang terang. Tetapi kalau malam akan memengaruhi kualitas dari produk tekstil. Garmen kesulitan menggunakan listrik malam,” ungkap Muhdori, di Kemenperin (29/2).
Menurutnya, persoalan sidkon KHW ini terletak di persoalan beban puncak ini.Namun, pihaknya akan mencoba menggunakan teknologi baru. Karena dari perhitungan efisiensi listrik siang dan malam, penggunaan teknologi baru akan dikomunikasikan. “Mendapatkan diskon tetap mendaftar. Tetapi ada industri tekstil yang saat ini berhenti, kalaupun pakai listrik dari PLN tetap tidak bisa jalan.”
Persoalannya,kata Muhdori, bagi tekstil yang berpeluang produksi, PLN memperbolehkan mengunakan keringanan tarif. Tetapi bagi yang sudah menunggak tetapi baru mau mencoba-coba, akan dievaluasi. Walaupun diberi hutang tertunda tetapi ingin pakai listrik lagi, kita evaluasi.”
Saat ini,katanya, ada sekitar 246-250 industri yang menggunakan diskon. Sebagian besar industri kelas menengah besar. Secara total KWHnya besar. sudah clear semua. Yang jelas, diskon bukan untuk kelebihan daya. Sebenarnya dengan diskon ini penggunaan listrik di industri ini bisa menghemat pengeluaran antara 3-5 persen. “Ini bermakna untuk tekstil, dan PLN mengerti kesulitan TPT.”
Terkait program restrukturisasi mesin,katanya, saat ini tengah dievaluasi. Sekitar pertengahan Mei 2016, baru akan terlihat hasil evaluasinya. ”Baru diputuskan dilanjutkan atau tidak, tetapi sepertinya dilanjutkan. Nanti kita buat kriteria industri yang benar-benar memanfaatkan restrukturisasi mesin.”
Pihaknya, akan membahasnya dengan API, BPKP dan seluruh stakeholder mana yang betul-betul membutuhkan dan layak diprioritaskan. Namun, nilai anggaran yang digelontorkan pada 2016 tidak jaug lebih besar dari tahun sebelumnya. Hanya sekitar Rp2- miliar-Rp40 miliar. Yang penting untuk mesin aksesoris, bukan mesin inti. Untuk meningkatkan kualitas, dari kain normative menjadi lebih berkualitas.
”Karena objek berkurang dan yang diberikan fasilitas restrukturisasi misalnya berdasarkan usulan API dan pemangku kepentingan lain di sektor mana yang diberikan, maka kita sesuaikan.Yang sudah dapat bisa juga dapat lagi untuk optimalisasi kapasitas mesin terpasang dalam pabrik. (fitri)
