24.2 C
New York
25/07/2024
Aktual

Indonesia Masuki Masalah Gizi Ganda

JAKARTA — Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, muncul lagi masalah gizi lebih (obesitas). Belum lagi masalah gizi lainnya, yaitu perawakan pendek pada anak.

“Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 pada anak usia 6-12 tahun, prevalensi anak kependekan 25,6%, anak kekurusan 11,2%, dan anak kegemukan 9,2%. Karenanya, partisipasi orangtua sangat penting untuk memastikan anak terhindar dari masalah gizi tersebut. Jika tidak, akan memunculkan persoalan di masa depan,” kata Dokter Spesialis Gizi, Dr. Laila Hayati, M. Gizi, SpGK, pada acara SOHO#BetterU: Hari Gizi Nasional, di Jakarta, Rabu (22/1).

Menurut Laila, Dokter Spesialis Gizi RSAB Harapan Kita, perawakan pendek pada anak tidak hanya menghambat perkembangan anak secara fisik. Tetapi juga memiliki dampak negatif yang akan berlangsung di dalam kehidupan selanjutnya. “Studi menunjukkan, anak-anak pendek menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang percaya diri, kurang sehat, dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular,” jelasnya.

Sedangkan pada kasus gizi kurang, bertambahnya usia anak tidak disertai penambahan berat badan. Pada banyak kasus, gizi kurang bisa disebabkan anak tersebut kekurangan zat besi.
“Idealnya, saat anak bertambah umur, bertambah juga berat dan tingginya. Namun, nutrisi yang tidak seimbang menyebabkan anak tidak mengalami pertambahan berat badan mencapai berat badan ideal,” tuturnya.

Karena itu, dalam masa pertumbuhan diperlukan pemberian nutrisi seimbang pada anak. Nutrisi seimbang adalah nutrisi yang mengandung banyak variasi makanan dan menyediakan seluruh zat gizi dan energi yang cukup.

Dr. Laila menyebut, obesitas juga menjadi masalah yang patut diberi perhatian khusus. Secara global, WHO memperkirakan 10 persen anak-anak usia sekolah antara 5-17 tahun, mengalami obesitas.
Pola makan yang buruk, aktifitas fisik yang kurang serta rendahnya kontrol orangtua terhadap makanan yang dikonsumsi anak, merupakan faktor dominan yang dapat meningkatkan resiko obesitas pada anak.

“Obesitas pada anak dapat dicegah dengan cara memantau pertambahan berat badan dan tinggi badan secara teratur, penghitungan Indeks Massa Tubuh anak secara berkala, aktifitas fisik rutin tiga hingga lima kali seminggu, dan melakukan pengontrolan makanan pada anak,” paparnya.

Leave a Comment