Oleh Anies Baswedan
PELAJARAN penting yang jarang kita sadari dari peristiwa Sumpah Pemuda adalah, pemuda masa itu telah berhasil membentuk jalan sejarah untuk menghadapi ketidakadilan (kolonialisme).
Jalan sejarah yg dimaksud adalah kesadaran dan keyakinan bahwa kemerdekaan sejati akan dicapai, ketika yang berbeda latar belakang, bersedia dan sanggup bersatu dalam tujuan. Itulah esensi Sumpah Pemuda.
Kita perlu sadari Indonesia adalah persenyawaan, unsur-unsur bangsa ini bergabung dan membentuk entitas baru: Indonesia. Persenyawaan bila diuraikan kembali menjadi unsur pembentuknya, persenyawaan itu hilang.
Indonesia bukan sekadar percampuran, yang tidak membentuk entitas baru dan masih diuraikan jadi unsur-unsut pembentuknya. Sebagai ilustrasi: Air adalah hasil persenyawaan hidrogen dan oksigen. Keduanya tetap ada sebagai unsur dan tidak hilang. Ada dalam satu susunan tertentu. Keduanya masih bisa dipisahkan dengan reaksi tertentu. Kembali jadi hidrogen dan oksigen. Jika begitu, tak ada lagi air.
Bersatu dalam tujuan, tidak berarti menghilangkan elemen-elemen pembentuknya. Jadi, yang Minang tetap Minang, Sunda tetap Sunda, Bugis tetap Bugis, tidak berubah. Dengan persenyawaan, unsur-unsur itu membentuk entitas baru bernama Indonesia.
Yang selama ini terjadi saat kita membaca Indonesia; fokus & menonjolkan pada unsur – unsur pembentuknya, padahal kita perlu fokus pada ke-Indonesia-annya.
Sama seperti suami, istri, anak dalam satu keluarga. Kalau bicara tentang keluarga, tidak berarti masing-masing keunikannya hilang. Tapi kalau melupakan tujuan keluarga, maka telah tercerai-berai ikatannya walau tinggal di dalam satu atap.
“Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa”, berarti berbeda-beda itu, satu itu, tak ada pengabdian yang mendua.
Kini kita tulis: “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda itu yg menyatu.
Kata terpentingnya: Tunggal. Bahkan ditegaskan dengan kata “ika”, diksi bahasa sansekerta yang dalam bahasa Jawa setara dengan kata iki, iku, kuwi. Pesan kuncinya Menjadi Tunggal, menyatu sebagai sebuah persenyawaan.
Karenanya, aneh jika membaca Indonesia hanya menekankan bhinneka, karena itu sama dengan membahas hasil persenyawaan dengan menekankan unsur pembentuknya. Apalagi kita sadar bahwa unsur itu menyatu bukan karena asal-usul, tapi tujuan.
Kebinekaan perlu dirayakan sebagai bentuk syukur akan anugerah Tuhan YME . Akan tetapi, yang utama terus diupayakan adalah persatuan, yang diikhtiarkan manusia, melalui usaha menghadirkan keadilan sosial. Karena persatuanlah yg akan membuat kebinekaan terus terasa indah.
Apa yg menjadikan unsur-unsur bangsa ini memilih persenyawaan? Mengapa memilih jadi Indonesia? Mengapa membentuk “Tunggal Ika”?
Jawabnya sederhana: tujuannya sama: semua menginginkan kemerdekaan sejati.
Kemerdekaan sejati itu masih harus terus kita perjuangkan. Proklamasi kemerdekaan bukan tujuan utama dari Sumpah Pemuda. Proklamasi adalah tujuan antara, ia gerbang emas menuju kemerdekaan sejati, yang ditandai dengan hadirnya rasa adil, bersatu, berdaulat dan makmur.
Peringatan Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa unsur-unsur bangsa ini telah memilih menyatu dalam pesenyawaan bernama Indonesia karena bertujuan sama; meraih kemerdekaan sejati. Persenyawaan ini direkatkuatkan oleh hadirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (Penulis adalah Gubernur DKI Jakarta/dari facebook)
