Reporter: Annajmutsaqib
.POSSORE.ID, Jakarta — Ada brand besar yang tumbang karena kehilangan arah. Sebaliknya, ada brand dengan tim kecil yang menembus pasar global. Mengapa bisa?
Menyaksikan banyak hal yang terjadi di dunia pemasaran, Ir. Teddy Tjan, M.Pd menulis buku berjudul “Ilmu Marketing itu Survival Skill”.
Buku setebal 100 halaman itu berisi bekal bagi siapa pun yang ingin mempelajari ilmu marketing. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman pribadinya yang selama 25 tahun terakhir ini berkecimpung di dunia marketing.
Bagi Teddy, ilmu marketing itu seharusnya dipelajari oleh siapa pun. Tidak terkhusus untuk para pemasar. Ya, setiap orang!
Karena, menurutnya, di dunia yang semakin kompetitif ini, kemampuan untuk memengaruhi, menyampaikan nilai, dan membentuk persepsi bukan lagi sekedar keterampilan tambahan.
“Mempelajari ilmu marketing adalah survival skill. Marketing itu bukan hanya tentang menjual produl atau jasa. Ini adalah cara kita memosisikan diri, mengkomunikasikan nilai dan membangin kehadiran di tengah masyarakat yang terus bergerak cepat,” tegas lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini saat ditemui beberapa waktu lalu.
Karena itu, di buku yang dicetak perdana pada Oktober 2025, itu kita diajak untuk mempelajari ilmu marketing dari sudut pandang berbeda. Bukan sebagai teori. Menuntun kita belajar melalui studi kasus sebagai cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Latar belakang pendidikan Teddy sendiri tidak dari jurusan marketing. Keahliannya di bidang ini ia pelajari dari lapangan, lewat praktik nyata, lewat kesalahan, dan tentu saja keberhasilan. Ya, learning by doing-lah yang membentuk fondasi kuat pemahamannya mengenai marketing.
“Marketing bukan hanya untuk menjual. Marketing adalah cara berpikir yang bisa membantu kita menjual ide, membangun kepercayaan, memperluas jaringan, dan memperkuat nilai diri kita. Ilmu yang sudah membawa saya sejauh ini,” tutur Teddy yang kini memiliki posisi sangat penting di Advance Digitals.
Teddy sudah malang-melintang sebagai top eksekutif di beberapa perusahaan dengan bidang usaha berbeda, menekankan pemasaran bukan lagi cuma kompetensi tambahan.
Namun, ilmu ini menjadi kemampuan bertahan hidup di era persaingan global. Marketing dipahami sebagai seni memahami kebutuhan pasar, membangun hubungan dengan konsumen, sekaligus menciptakan nilai yang berkelanjutan.
