08/05/2026
Aktual

IKJ akan Bentuk Pusat Kajian dan Riset Komik Indonesia

pepeng

JAKARTA (Pos Sore) – Untuk membangkitkan seni komik di Indonesia, Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (FSR IKJ) akan membuat Pusat Kajian dan Riset Komik Indonesia.

“Tahun ini IKJ berusia 45 tahun dan untuk menunjukkan komitmen sebagai perguruan tinggi seni negeri tertua di Indonesia maka kami merancang untuk membuat pusat kajian dan riset komik,” kata Dekan FSR IKJ Citra Smara Dewi, di kampus IKJ, Senin (22/6).

Citra menjelaskan, kampus memandang semakin banyaknya komikus Indonesia yang mendapat tempat di masyarakat. Karenanya, perlu didukung dengan pusat riset. Kehadiran alumni IKJ yang menjadi komikus handal merupakan kekuatan baru dalam ekonomi kreatif.

“Ini sebagai tanggung jawab moral dan kepedulian dalam kajian dan riset sebagai perguruan tinggi seni,” katanya dalam konferensi pers ‘28BIKINI (28 Tahun Bikin Komik-Kartun di Cikini) di kampus IKJ pada Kamis (25/6) hingga Sabtu (3/7).

Citra menjelaskan, di IKJ khususnya program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) sudah banyak komikus dan kartunis yang aktif berkarya d media cetak dan maya. Misalnya, Benny Rachmadi dan Mice yang menerbitkan komik Benny and Mice serta Pepeng ‘Naif’ yang melahirkan dua edisi komik Setan Jalanan yang menjadi catatan penting komik Indonesia.

IKJ baru membuka peminatan ilustrasi dengan kuliah Sequential Art (komik) satu semester penuh pada 2010. Kurikulum baru ini dikembangkan oleh dosen muda yang juga praktisi ilustrator seperti Saut Irianto Manik, Saut Miduk, Rasuardie dan Beng Rahadian.

Menurut Citra, kapan pusat riset dan kajian komik ini diresmikan tergantung dari seberapa cepat Pemprov DKI melakukan renovasi kampus IKJ yang kini masih berlangsung. Saat ini, terangnya, renovasi sudah memasuki tahap kedua.

“Saya berharap pada tahun depan pusat riset dan kajian ini sudah terwujud. Dari beberapa lantai yang direncanakan untuk pusat kajian itu kampus akan melengkapinya dengan galeri dan perpustakaan bertemakan komik,” ujarnya.

Seniman terkemuka Indonesia, Arswendo Atmowiloto turut mendukung pembuatan pusat kajian dan riset komik tersebut dengan menghibahkan 75 koleksi komiknya. Koleksi komik yang sudah sekian lama dikumpulkannya itu diserahkan untuk IKJ sebagai bahan kajian awal pusat kajian dan riset komik.

Menurutnya, industri komik di Indonesia sudah jauh berkembang. Hanya saja, ketika komik masuk ke media visual ataupun film nasibnya malah habis. Tidak seperti di luar negeri, jelasnya, komik malah bahan pendukung suatu film.

“Contohnya saja film Batman atau Superman kan lahirnya dari komik dulu. Kalau di Indonesia komiknya sudah bagus tapi begitu masuk film habis (riwayatnya),” tegasnya. (tety)

Leave a Comment