02/05/2026
AktualEkonomi

IFEX dan Harapan Baru Furnitur Indonesia Menembus Panggung Dunia

POSSORE.ID, Jakarta — Pagi di kawasan Indonesia Convention Exhibition BSD City terasa berbeda. Di ruang-ruang pameran yang luas, aroma kayu, rotan, dan sentuhan kriya Nusantara berpadu dalam satu cerita tentang Indonesia yang terus berusaha memperkenalkan dirinya kepada dunia melalui furnitur dan kerajinan.

Di sinilah harapan itu dirajut. Melalui Indonesia International Furniture Expo, para produsen furnitur dari berbagai daerah bertemu dengan buyers internasional, membuka pintu-pintu baru bagi industri yang sesungguhnya menyimpan potensi besar.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menggambarkan betapa luasnya peluang yang ada di pasar global. Menurutnya, nilai pasar furnitur dunia saat ini mencapai sekitar USD 201 miliar per tahun—sebuah angka yang menempatkan industri furnitur dan kerajinan sebagai salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan internasional.

Namun peta persaingan global masih sangat terkonsentrasi. China mendominasi ekspor dengan nilai sekitar USD 130 miliar, disusul Vietnam sekitar USD 21 miliar dan Jerman sekitar USD 18 miliar. Indonesia sendiri, kata Sobur, masih berada di posisi yang jauh lebih kecil dengan nilai ekspor furnitur dan kerajinan sekitar USD 2,44 miliar pada 2023, dan hingga November 2024 mencapai sekitar USD 2,37 miliar.

“Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain relatif kecil dalam pasar global yang sangat besar,” tegas Sobur.  Meski demikian, ia melihat kondisi tersebut justru membuka ruang pertumbuhan yang luas. Dengan strategi industri dan perdagangan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk mempercepat peningkatan ekspor.

Keunggulan Indonesia, lanjut Sobur, terletak pada sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain, yakni kekayaan bahan baku tropis serta tradisi kriya yang telah hidup selama berabad-abad. Dari kayu hingga rotan, dari ukiran hingga desain yang berakar pada budaya lokal, furnitur Indonesia bukan sekadar produk fungsional.

Nilai estetika, identitas budaya, dan kearifan lokal yang melekat dalam setiap karya menjadi daya tarik tersendiri di pasar global—terutama ketika dunia kini semakin menghargai produk yang autentik dan berkelanjutan.

Leave a Comment