Oleh: Zaenal Abidin
Rakyat di negeri ini patut berbangga karena memiliki dokter-dokter yang sangat peduli terhadap nasib mereka. Kepedulian tersebut telah dilakoni oleh dokter Indonesia sejak masa perjuangan merebut kemerdekaan, hingga sekarang.
Baik sejak tahun 1911 (masa pergerakan nasional) ketika dokter-dokter di Indonesia telah memiliki wadah perjuangan, meski namanya bukan IDI, maupun sebelumnya menjelang lahirnya organisasi kebangsaan modern pertama, Boedi Oetomo.
Hal di atas tersurat dalam konsideran pendirian IDI. Konsideran itu berbunyi, “Setelah menimbang bahwa dokter-dokter Indonesia yang telah terikat 40 tahun (1911-1950) dalam suatu ikatan nasional yang cukup bersejarah …..”
Itu berarti, hanya berselang tiga tahun setelah berdirinya Boedi Oetomo (1908) yang diprakarsai oleh para aktivis sekolah dokter STOVIA ketika itu, telah ada perkumpulan dokter.
Perhimpunan dokter Indonesia yang ada sejak tahun 1911 itu bernama Vereniging van Indische Artsen, dengan tokohnya yang terkenal Dr. J. A. Kadayu yang sekaligus menjabat sebagai ketuanya. Selain itu, tercatat nama-nama tokoh seperti Dr. Wahidin Soedirohusodo, Dr. Soetomo, Dr. Tjiptomangunkusumo yang bergerak di lapangan sosial dan politik.
Dikenal pula Dr. Mangkoewinoto, Dr. Soesilo, dan D. Kodjat yang berjuang di bidang penyakit menular, juga Dr. Kawilarang, Dr. Sitanala, Dr Asikin Widjajakusumah, dan Dr. Sardjito.
Nama terakhir ini terkenal dengan majalahnya “Medische Bericheten” yang diterbitkan di Semarang bersama-sama dengan Dr. A. Moechtar dan Dr. Boentaran. Pada 1926 perkumpulan ini berubah nama menjadi “Vereniging van Indonesische Geneeskundige.”
Pada masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti menjadi ”Jawa Izi Hooko Kai.” Dan tahun 1948 didirikan lagi Perkumpulan Dokter Indonesia (PDI), yang dimotori kalangan dokter muda dibawah pimpinan Dr. Darma Setiawan Notohadmojo.
PDI berfungsi pula sebagai badan perjuangan di daerah pendudukan Belanda. Ketika itu dokter-dokter tidak menyatu, sukuisme. Karena itu, untuk mepersatukan dokter-dokter Indonesia dan untuk melanjutkan cita perjuangan pendahulunya, mengisi kemerdekaan, maka didirikanlah sebuah wadah baru yang bernama Ikatan Dokter Indonesia, pada 24 Oktober 1950.
Hari lahir IDI di atas diambil dari pengesahan notaris yang dilakukan oleh notaris Raden Kardiman yang tetuang dalam akte, di jalan Waworuntu No. 109, tertanggal 24 Oktober 1950.
Selanjutnya disahkan sebagai badan hukum yang dikukuhkan dengan memuat Anggaran dasar IDI pada Berita Negara R.I. Nomor 9 Tahun 1951, sebagai tambahan Berita Negara Nomor 13 tanggal 13 Februari 1951.
Sebulan sebelumnya, Menteri Kehakiman R.I, juga telah mensahkan Anggaran dasar IDI melalui Surat Ketetapan Nomor J.A.8/9/20 tertanggal 18 Januari 1951.
Dalam SK tersebut dinyatakan bahwa yang ditunjuk mewakili untuk mengurus akte pendirian Ikatan Dokter Indonesia adalah adanya surat permohonan tertanggal 3 Nopember 1950 dari Soetrono Prawiwoatmodjo.
Para pendiri IDI
Sebagaimana yang tercantum dalam akte notaris, terdapat tujuh orang dokter sebagai pendiri IDI. Mereka itu adalah Dr. R. Soehato (Jl. Kramat Raya 106), Prof. Dr. R. Sarwono Prawirohardjo (Jl. Pegangsaan Timur 42), Dr. R. Piringadi (Jl. Irian 11), Dr. Ouw Eng Liang (Jl. Krekot 36),
Selain itu, Letkol Dr. R. Azis Saleh (Jl. Boxlaan 18), Dr. Tang Eng Tie alias dr. Arief Sukardi (Jl. Baljuw 16), dan Dr. H. Sinaga (Jl. Cimalaya 10). Dr. R. Soeharto-lah yang ketika itu bertindak sebagai diri sendiri dan wakil lisan dari enam orang sejawatnya untuk mengahadap ke Notaris Kardiman, tanggal 24 Nopember 1950.
Namun, bila kita tarik pada rapat yang dihadiri oleh pengurus PDI dan Perthabin yang terlibat dalam rapat 30 Juli 1950, di rumah dr. R. Soehato, Jalan Kramat 106 Jakarta (kini Apotek Titimurni), untuk membahas perlunya pembentukan organisasi dokter yang baru sebagai para pendiri IDI.
Atau semua dokter yang menghadiri Muktamar Dokter WNI, 22-25 September di Jakarta sebanyak 181 orang disebut para pendiri. Atau semua dokter yang mengisi kuesioner dan memberi persetujuan secara tertulis atas rencana penyelenggaraan Muktamar Dokter WNI tersebut (namun tidak sempat hadir) sebagai para pendiri IDI.
Sebab, diketahui tujuan penyelenggaraan Muktamar Dokter WNI yang pertama ini adalah untuk mendirikan “satu” organisasi baru, yaitu perkumpulan dokter WNI, yang merupakan representasi dunia dokter dan dunia kedokteran Indonesia ke dalam dan ke luar negeri. Organisasi baru ini kemudian disepakati bernama Ikatan Dokter Indonesia disingkat IDI.
Ide dasar berdirinya IDI
Ide dasar berdirinya Ikatan Dokter Indonesia, bisa kita lihat pada tujuan IDI saat itu adalah: (a) Mempertinggi derajat kesehatan rakyat. (b) Memperjuangkan hak pokok tiap-tiap manusia untuk memperoleh kesehatan jasmani dan rokhani sesuai dengan paham keadilan. (c) Mempertinggi derajat ilmu kedokteran dan ilmu lain yang berhubungan dengan itu. (d) Mengusahakan kedudukan yang layak bagi anggotanya.
Di dalam tujuan tersebut, jelas sekali tersurat bahwa misi perjuangan kerakyatan dan kemanusiaan IDI sangat dominan. Hal ini tentu tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pembentukannya, yang dimulai dari gerakan Boedi Oetomo 1908, juga lebih mengutamakan komitmen kebangsaan dan kemanusiaannya.
Cita-cita dan tujuan Boedi Oetomo: “Kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita kemanusiaan, untuk mencapai kedudukan bangsa yang terhormat.”
Setelah misi kerakyatan dan kemanusiaan, barulah pendiri IDI menuliskan komitmennya untuk pengembangan keilmuan, khususnya ilmu kedokteran sebagai basisnya dan ilmu-ilmu lain yang dianggap dapat mendukung kelangsungan profesinya.
Sebagai sebuah organisasi atau perkumpulan, tentu saja tidak berbeda dengan organisasi lain, IDI juga berkepentingan untuk untuk memperjuangkan tuntutan dan kebutuhan anggotanya.
Karena itu, secara sepintas, tampak tujuan dan ide dasar itu cukup sederhana, dan mungkin tidak terlepas dari faktor eksternal ketika itu, yaitu situasi bangsa saat itu yang baru saja lima tahun merdeka.
Sebagai bagian dari bangsa yang baru saja merdeka, dengan kondisi politik, keamanan, ekonomi negara dan rakyat yang tidak menentu, sangat mudah dimengerti jika semangat kerakyatan dan kebersamaan IDI lebih menonjol daripada yang lain.
Apalagi para dokter yang menjadi anggotanya masih mengalir jiwa dan semangat perjuangan, sebagaimana yang telah dirintis dan ditunjukkan para pendahulunya, mendirikan Boedi Oetomo dan mempelopori pergerakan melawan penjajah.
Hal di atas pun membuktikan bahwa sejarah pekembangan dokter dan organisasi dokter Indonesia, tidak semata-mata diwarnai atau dibatasi oleh aktivitas profesi yang berhubungan dengan penanganan pasien atau orang sakit semata, namun lebih dari itu.
Perjalanan dan Perkembangannya
Saat ini IDI memang baru menjelang 73 tahun berbakti, namun bila ingin mengukur usia pengabdian dokter Indonesia tentu harus ditarik jauh ke belakang, yakni menjelang berdirinya Boedi Oetomo 1908 tentu lebih lama lagi, yakni 115 tahun. Atau bahkan bakti itu telah terjadi pada tahu-tahun sebelumnya.
Perjalanan dan perkembangan IDI tidak jauh beda pada awal pembertukannya. Sebagai salah satu organisasi profesi yang bergerak dalam bidang kesehatan, IDI tidak terbebas dari persoalan kesehatan secara umum, maupun masalah lain yang berhubungan dengan kesehaan.
Pada awal pembentukannya sekalipun IDI telah menjadi wadah perjuangan mempertahankan kemerdekan oleh para dokter, yang berjuang mempertahankan kemerdekan Indonesia.
Karena itu, tidak heran jika di dalam perjalannya banyak anggota IDI terjun dalam perjuangan bersenjata dengan menjadi anggota militer, polisi. Sebahagian pula menjadi diplomat, bankir sukses, politisi, birokrat, ilmuan/akademisi, agamawan, jurnalis, pengabdi sebagai dokter di kota mapun di daerah terpencil atau sangat terpencil perbatasan sekalipun.
Dan memang harus begitu, agar misi kesehatan dan kedokteran bisa tercapai. Sebab, hingga kini tampaknya kita masih sulit mengharapkan orang yang tidak mengenal dunia kesehatan dan kedokteran akan memperjuangkannya misi IDI. Meski kita juga sangat yakin bahwa setiap insan membutuhkan adanya pelayanan kesehatan dan kedokteran secara optimal.
Untuk itu, keberadaan anggota IDI di luar aktivitas profesi, tidak lain dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya tujuan IDI sendiri. Dengan kata lain, lapangan pengabdian dan bakti dokter anggota IDI menjadi semakin luas, namun tetap dalam koridor dan bergerak pada satu misi dan tujuan yang sama, yaitu mendukung pencapaian cita-cita luhur organisasi IDI.
Selamat menyambut Hari Bakti Dokter Indonesia dan Hari Kebangktitan Nasional, 20 Mei 2023. Wallahu ‘allam bissawwab.
