25 C
New York
20/06/2024
Aktual

Harga Selalu Melonjak, Kementan Usul Bentuk Badan Penyangga Cabai dan Bawang Merah

img_20161107_095705

JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono, mengatakan, Kementan mengusulkan agar dibentuk badan penyangga oleh perusahaan badan usaha milik negara untuk menangani cabai dan bawang merah agar lonjakan harga tidak selalu terjadi setiap tahun.

“Cabai rawit, cabai keriting, dan bawang merah saat ini merupakan komoditas strategis yang bila kekurangan pasokan maka akan melonjak harganya, sehingga perlu penanganan yang sistematis dan strategis seperti beras,” katanya, dalam rapat bersama jajarannya membahas khusus produksi, distribusi, dan stok cabai dan bawang merah, di Jakarta, Senin (7/11).

Spudnik mengatakan, perusahaan BUMN yang bisa ditunjuk oleh pemerintah untuk menangani komoditas strategis itu adalah Perum Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Kedua BUMN itu dinilai memiliki pengalaman dan siap dalam menangani komoditas strategis.

Dikatakan, badan penyangga tersebut, bisa diberi penugasan oleh pemerintah untuk membeli cabai dan bawang merah saat musim panen dan selanjutnya bisa menyimpan di gudang yang dimiliki serta kemudian dijual saat harga mulai tinggi.

Menurutnya, badan penyangga tersebut dinilai sangat mendesak untuk bisa dibentuk dalam waktu dekat. Dengan demikian, masalah lonjakan harga cabai dan bawang merah tak terus-menerus terjadi setiap tahunnya, terutama pada Oktober, November, dan Desember.

“Setiap tahun, Kementan selalu menjadi ‘pemadam kebakaran’, yaitu saat terjadi lonjakan harga dan stok di pasaran berkurang maka dilakukan operasi pasar. Cara seperti itu tidak akan efektif mengingat hanya bersifat sementara saja,” tegasnya.

Karenanya, kementan mengusulkan agar dalam waktu dekat dibentuk badan penyangga untuk menangani dua komoditas strategis itu sehingga kejadian lonjakan harga tak terus berulang.

“Pola yang seperti dilakukan Bulog dalam menangani beras seperti saat ini sudah sangat tepat, terbukti harga beras jarang terjadi lonjakan dan stok selalu tersedia,” tambahnya.

Dia menilai harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah yang menembus hingga Rp60.000 per kilogram sangat tidak wajar mengingat sebenarnya produksi dan stok di petani tersedia dan tidak terjadi gagal panen.

Manajemen tanam yang selama ini dilakukan petani sesuai usulan Kementan, yaitu dengan tidak menanam cabai dan bawang secara sporadis tapi bergantian, juga sudah dilakukan petani.

“Memang musim hujan yang berkepanjangan saat ini cukup mempengaruhi stok komoditas itu, disamping kurang lancarnya distribusi akibat cuaca yang tidak baik,” ujarnya.

Di Jakarta sendiri kebutuhan cabai rawit setiap hari sebesar 48 ton, cabai keriting 53 ton, dan bawang merah 76 ton. Sementara kebutuhan di Bodatek per hari cabai rawit adalah 130 ton, cabai keriting 146 ton, dan bawang merah 210 ton. (tety)

Leave a Comment