08/05/2026
AktualGaya Hidup

Harga Mahal, Masyarakat Diajak Tanam Cabai di Rumah

cabe

JAKARTA (Pos Sore) – Beberapa hari ini, harga cabai merangkak naik dan terasa pedasnya di lidah masyarakat, khususnya para ibu. Nah, Kementerian Pertanian mengajak masyarakat untuk menanam cabai agar tidak selalu bergantung pada stok yang tersedia di pasar. Menanam cabai tak perlu lahan luas, cukup dengan menggunakan kantong plastik dan kaleng bekas pun jadi.

Untuk memasyarakatkan kebiasaan itu, maka Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian akan membagikan 280.000 buah polibag berisi tanaman cabai untuk masyarakat wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Serang.

“Tujuannya, untuk mendorong masyarakat memproduksi cabai sendiri. Langkah ini, selain efektif memenuhi kebutuhan pangan masyarakat juga diyakini dapat menjaga stabilitas pasokan dan pergerakan harga cabai di masyarakat,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Yanuardi, saat ditemui di sela pertemuan para penggerak tanaman cabai, Senin (10/10).

Polibag tersebut berisi tanaman cabai berjenis cabai merah besar, cabai merah keriting dan cabai rawit. Tanaman cabai dalam polibag itu dibagikan melalui 150 kelompok tani dan selanjutkan disebar ke masyarakat.

“Pembagian polibag berisi tanaman cabai ini diharapkan masyarakat bisa memperbanyak sendiri. Sehingga tak terpengaruh dengan tingginya harga cabai di pasaran. Karena kalau terus dirawat, satu tanaman cabai dalam polibag ini bisa bertahan hingga 2 tahun,” katanya.

Menurutnya, untuk memudahkan perawatan, tanaman cabai yang dibagikan itu sudah berbunga dan berusia 60 hari. Masyarakat hanya butuh waktu untuk menanennya sekitar sebulan dan selanjutnya bisa dipanen setiap saat selama setahun. Khusus cabe rawit umurnya bisa hingga dua tahun sehingga bisa bernilai ekonomis bagi masyarakat itu sendiri.

“Saat memberikan polibag itu ke masyarakat, kami juga menurunkan tim pembina untuk membantu masyarakat menanam atau memperbanyak tanaman cabai ini di halaman rumah,” ujarnya.

Tim pembina ini akan mengedukasi warga teknis memelihara dan cara pengendalian tanaman cabai. Masyarakat juga dibagikan pupuknya, namun masyarakat bisa menggunakan air cucian beras atau air cucian ikan sebagai pupuknya.

Ia menjelaskan, tanaman hortikultura seperti cabai adalah salah satu komoditas yang komplementer dan tidak bisa digantikan oleh produk lain. Kelemahannya tidak tahan lama, sehingga harus didukung dengan peningkatan teknologi yang tepat guna.

“Dengan begitu, masyarakat bisa memproduksi dan mengkonsumsi cabai sendiri,” tambahnya.

Menurutnya, masyarakat kita sepertinya tidak bisa mengubah pola konsumsi yang selama ini selalu mengkonsumsi produk segar. Sebenarnya masyarakat juga bisa mengkonsumsi produk turunannya sebagai alternatif seperti bubuk cabai.

“Padahal rasanya sama, pedas juga. Tapi seperti sulit. Makanya kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan halaman kosong di rumah,” ujarnya.

Terkait mahalnya harga cabai di pasaran, Yan mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah membuat manajemen sistem tanam cabai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengaturan pola produksi ini bertujuan agar panen cabai tak menumpuk di bulan-bulan tertentu saja.

Dia menjelaskan, penanaman cabai diatur bergantian di tiap daerah. Ketika sentra yang satu sedang panen, maka tanam cabai dimulai di sentra lainnya. Dengan begitu, produksi cabe lebih merata, terus tersedia sepanjang tahun.

“Produksi cabai juga terus digenjot dengan perluasan areal tanam, pemberian bantuan benih, dan sebagainya. Kami genjot dengan mengembangkan luasan, benih. Ada juga manajemen tanam pola produksi. Sehingga hasilnya kebutuhan cabai dan bawang merah di masyarakat cukup. Bahkan surplus sekitar 50 ribu per tahun,” imbuhnya.

Diakui, produksi cabai nasional memang masih belum merata sepanjang tahun. Ada bulan-bulan tertentu dimana produksi cabai berada di bawah kebutuhan per bulan, misalnya bulan Juli ketika tanaman cabai kekurangan air. Namun pihaknya tetap berupaya menjaga produksi cabai di puncak musim kemarau dengan pengairan yang baik.

“Kami pun mengajak masyarakat untuk menanam cabai sendiri di halaman rumah. Jadi masalah ada tinggi rendahnya harga cabai karena pengaruh cuaca dan distribusi. Bukan karena stok yang berkurang,” tutup Yan. (tety)

Leave a Comment