06/05/2026
Aktual

Hanya 10 Persen Pasien Gangguan Tulang Belakang Butuh Tindakan Bedah

JAKARTA (Pos Sore) — Berdasarkan penelitian, 50 persen dari orang usia 15-50 tahun menderita gangguan tulang belakang akibat aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan olahraga. Kasus tersebut akan terus meningkat seiring pertambahan usia seseorang. Semakin tua seseorang, peluang menderita gangguan tulang belakang akan semakin besar.

Sayangnya, kata dr. Harmantya Mahadhipta, Sp-OT, tim dokter ortopedi RS Premier Bintaro, meski kasus-kasus gangguan tulang belakang amat banyak ditemukan di tengah masyarakat, sebagian besar penderita memilih pengobatan tradisional. Tak banyak yang mengunjungi dokter atau rumah sakit dengan berbagai alasan.

“Gangguan tulang belakang tidak boleh diabaikan. Selain menghambat aktivitas sehari-hari, juga bisa berakibat fatal seperti kelemahan anggota gerak, gangguan buang air besar dan kecil, disfungsi ereksi maupun kelumpuhan parsial atau total di kaki,” paparnya dalam media gathering Ramsay Health Care Indonesia bertajuk ‘Orthopaedic update in Surgery’, di Jakarta, kemarin.

Karena itu, ia menyarankan mereka yang menderita gangguan tulang belakang untuk segera mendatangi dokter. Ini untuk mengetahui apakah gangguan tulang belakang yang diderita seseorang berhubungan dengan cidera patah tulang belakang, osteoporosis, infeksi, tumor atau kelainan bentuk tulang belakang.

Tanah Abang-20160825-03064

Ia menambahkan, untuk menangani kasus gangguan tulang belakang, tak selamanya dilakukan dengan tindakan operasi. Data statistic di Ramsay Spine Center (RSC) RS Premier Bintaro menunjukkan hanya 390 pasien dari 1.651 pasien tukang belakang yang mendapatkan tindakan operasi. Artinya, hanya sekitar 10 persen saja pasien gangguan tulang belakang yang sesungguhnya membutuhkan tindakan bedah.

“Pada kasus-kasus gangguan tulang belakang yang membutuhkan tindakan pembedahan, kini dunia kedokteran telah menemukan metode tehnik bedah minimal invasive, di mana tindakan operasi bisa dilakukan dengan sayatan yang sangat kecil tak lebih dari dua cm,” urainya.

Teknik bedah tersebut memungkinkan segala risiko pada operasi besar seperti lamanya waktu penyembuhan, rusaknya jaringan otot serta risiko munculnya jaringan parut bekas sayatan bisa ditiadakan. Metode ini diakuinya sudah diterapkan pada penanganan pasien gangguan tulang belakang di RSC RS Premier Bintaro.

Dengan alat bantu diagnosis berupa Long Length Imaging (LLI) memungkinkan tim dokter memperoleh gambaran utuh dari obyek tulang yang panjang seperti tulang belakang mulai dari leher hingga tulang ekor serta dari pinggul sampai tumit.

Sedang untuk mengetahui fungsi saraf pasien pada saat operasi, tim dokter menggunakan teknologi infra operating nerve monitoring atau IONM sehingga tindakan operasi bisa dilakukan dengan komplikasi yang seminimal mungkin. (tety)

Leave a Comment