JAKARTA (Possore.id) — Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengadakan halalbihalal bersama jajaran pengurus dan para Ketua Umum Organisasi anggota Kowani, para ketua beserta pengurus yayasan-yayasan Kowani, serta para Ketua BKOW (Badan Kerja Sama Organisasi Wanita) dan Ketua GOW (Gerakan Organisasi Wanita) di seluruh Indonesia.
Ketua Bidang Agama, selaku panitia pelaksana, Dra Hj Maryam Thohary M.Pd, menyampaikan, kegiatan halalbihalal ini mengangkat tema “Menggali nilai-nilai silaturahmi idul fitri untuk menguatkan persaudaraan sebangsa dan se-tanah air”.
Halalbihalal ini juga masih satu rangkaian dari kegiatan Amaliyah Ramadhan yang dimulai sejak bulan Ramadan. Kegiatan yang memberikan perhatian kepada yatim dan dhuafa. Terutama anak dan perempuan di Kampung Nelayan, Jakarta Utara.
“Semoga acara yang kita laksanakan hari ini mendapat ridha dari Allah. Kami menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima rangkaian ibadah kita selama Ramadan mengabulkan doa-doa kita kemudian mengampuni dosa kita sehingga kita kembali fitrah.
Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, menyampaikan halalbihalal ini dilaksanakan secara hybrid. Bertujuan memperkuat kembali tali persaudaraan, pertemanan dan persahabatan, terlebih lagi setelah melalui masa pandemi Covid-19.
“Dengan eratnya jalinan silahturrahim, saya berharap nantinya dapat menjaga dan meningkatkan konsolidasi gerakan perempuan dari seluruh anggota organisasi kowani, BKOW dan GOW di seluruh Indonesia,” kata Giwo, Kamis 11 Mei 2023 di Gedung Kowani, Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
Dikatakan, halalbihalal ini sejalan dengan visi dan misi Kowani sekaligus mengemban peran sebagai Ibu Bangsa yang telah diamanahkan oleh founding mother sejak tahun 1935.
Itu artinya, kegiatan halalbihalal memiliki niat dan tujuan yang sama dengan peran Ibu Bangsa. Yaitu, meningkatkan ukhuwah dan persaudaraan sebangsa dan setanah air.
Selain itu, terbangunnya semangat kebersamaan. Salah satunya, dalam mengemban tugas organisasi dimotivasi oleh nilai-nilai spiritualitas dan moralitas agama.
“Sekaligus untuk mengokohkan kembali komitmen kita, tujuan kita, serta kebersamaan kita dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa khususnya kaum perempuan Indonesia,” tegas Giwo.

Menurut Giwo, ada beberapa nilai utama yang penting dipertahankan melalui momentum bulan syawal dengan kegiatan halal bihalal ini.
Salah satunya, antara lain dapat meningkatkan ikatan emosional antar sesama, rasa saling memiliki, rasa saling membutuhkan satu sama lain, yang akan berdampak pada kokohnya silaturahmi.
“Dari silaturahmi menuju kepada Silatul Qolbi atau saling mencintai, kemudian “Silatul Fikri” yaitu kesamaan berfikir yang dapat memudahkan kita semua, sebagai sesama warga negara, sebagai anggota organisasi untuk melakukan kegiatan yang akan berdampak bagi kemaslahatan dan kebermanfaatan bersama.”
Kowani menyadari masyarakat terdiri dari berbagai agama, suku, bahasa dan budaya. Tentunya hal ini mewajibkan seluruh komponen bangsa untuk bersatu padu.
“Sehingga kita dapat memupuk dan menularkan persatuan dan kesatuan tersebut kepada seluruh komponen masyarakat lainnya,” katanya.
Sebagai organisasi yang memiliki jaringan sampai tingkat grassroot/akar rumput melalui BKOW dan GOW, Kowani berharap, melalui halal bihalal ini semua dapat mengaplikasikan nilai nilai siturahmi untuk terus berperan dan berkontribusi dalam upaya ikut menjaga kerukunan dalam perbedaan.
Selain itu, turut membangun kesatuan dan keutuhan nasional, karena kerukunan adalah faktor utama dalam menjaga keutuhan bangsa. Persatuan dan kesatuan antarsesama manusia tidak mungkin dapat terwujud kalau tidak ada semangat persaudaraan.
Kowani sendiri adalah organisasi federasi yang mewadahi 102 anggota organisasi dan 90 juta anggota perempuan di seluruh Indonesia, dengan latar belakang yang berbeda-beda baik pendidikan, profesi, agama dan budaya yang berbeda-beda.
“Mereka mempunyai peran strategis sebagai panutan dan role model, untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Sesuai dengan tema yang diangkat pada halal bihalal hari ini,” tutupnya.

Sementara itu, DR. (HC) Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Agama RI periode 2014 – 2019 hadir untuk memberikan tausyiah. Lukman menyampaikan halalbihalal hanya ada di Indonesia. Bangsa Arab pun tidak mengenalnya.
Halalbihalal ini digagas oleh Menteri Agama yang terdahulu Wahab Hasbullah, yang juga seorang ulama besar. Saat itu, negara dalam kondisi yang belum stabil pasca kemerdekaan, sehingga halalbihalal menjadi medium yang bisa menyatukan elemen pemimpin bangsa.
“Beliau mengusulkan kepada Bung Karno agar ketika Idul Fitri mari kita mengadakan pertemuan di antara mereka. Biar saling menghalalkan. Kalau ada kecurigaan, ada sakit hati, ada kecewaan, ada hal-hal yang selama ini mengganjal hubungan relasi sosial di antara kita maka itu harus dileburkan. Dicairkan. Dihalalkan,” ungkapnya.
Jadi, halalbihalal ini sebenarnya milik umat Islam. Hanya ada di Indonesia. Tidak ada di negara manapun. Negara Islam sekalipun tidak ada Idul Fitri. Ucapan mohon maaf lahir batin juga itu khas Indonesia. Apalagi mudik atau pulang kampung.
Makna Hari Raya Idul Fitri ia harapkan bisa kembali menyatukan bangsa Indonesia. Konteks Indonesia sebagai saudara sebangsa dan setanah air harus kembali dipertahankan.
Dalam kaitan kehidupan berbangsa, Idul Fitri, seyogyanya kita kembali kepada jati diri bangsa yang satu. Kita lebih tingkatkan lagi hubungan kita dalam membangun sifat saling mengasihi dan menyayangi.
