05/05/2026
Aktual

Hadapi MEA, LLP-KUKM Fokus Lakukan Penguatan Pemasaran bagi UKM

JAKARTA (Pos Sore) — Kota Yogyakarta terkenal dengan kerajinan peraknya. Aneka perhiasan dan aksesoris dari perak begitu banyak digandrungi wisatawan, terutama dari luar negeri.

Sayangnya, salah satu usaha andalan kota Yogyakarta yang pusatnya terdapat di Kota Gede ini nyaris punah tergilas roda ekonomi. Padahal, kerajinan perak Kota Gede menjadi identitas kerajinan tangan Yogyakarta, di antara beragam khasanah kekayaan lainnya.

Di sela kunjungan kerjanya ke Yogyakarta, Rabu (13/1), Direktur Utama LLP-KUKM Kemenkop UKM, menyempatkan menyambangi beberapa pelaku usaha kecil dan menengah untuk menggali informasi riil kondisi perdagangan mikro di Yogyakarta khususnya.

Seperti diungkapkan salah satu pelaku UKM aksesoris Salim Silver. Katanya, saat ini para perajin perak banyak yang beralih profesi. Kebanyakan dari mereka menjadi tukang bangunan, tukang parkir dan berdagang kelontong.

“Terlebih kini generasi muda jarang ada yang mau memilih profesi sebagai pengrajin perak, sehingga proses kaderisasi kepada generasi muda terhambat,” ungkap Salim yang ditemui di workshopnya.

Menurutnya, penyebab itu semua karena perdagangan perak khususnya perihasan kurang diminati. Hal ini berimbas pada upah pengrajin perak tidak bisa maksimal karena order semakin lama semakin menurun.

“Saat ini pasar ekspor juga kurang selama beberapa tahun belakangan. Biasanya negera seperti Amerika dan Jepang rutin memesan, tapi sekarang mereka pesan hanya sesekali.” paparnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, Ahmad Zabadi menegaskan, saat ini fokus LLP-KUKM utamanya melakukan penguatan pemasaran bagi KUKM. Setelah MEA berlangsung, hukum supply-demand akan menjadi faktor penentu keberlangsungan bisnis UKM.

“Untuk itu, kami lebih selektif mencari mitra UKM yang akan mengikuti program perkuatan pemasaran kami, agar sesuai dengan tujuan program kemitraan LLP-KUKM.” katanya.

LLP-KUKM pun tengah memetakan perajin dan pengusaha kerajinan perak yang memproduksi produknya secara hand made. Mereka nantinya diberikan pendampingan bisnis dan perkuatan akses pasar.

“Kelompok UKM yang sudah sudah langka ini harus menjadi perhatian serius LLP-KUKM, untuk ditingkatkan volume penjualan produknya. Jangan sampai 10 tahun mendatang kita hanya memiliki cerita besarnya saja,” tandasnya..

Di tempat terpisah Deddy Effendy pemilik Palem Craft menambahkan, UKM saat ini membutuhkan pendampingan bersifat perluasan pasar. Terutama saat datangnya kelesuan ekonomi.

“Kami para UKM membutuhkan terobosan dari pemerintah yang bukan hanya bersifat pameran produk, namun bersifat business meeting yang mempertemukan antara buyer dengan produsen pada satu forum, khususnya bertemu buyer luar negeri,” ujarnya.

Mendengar hal itu, Ahmad Zabadi menambahkan, saat ini LLP-KUKM telah menggarap beberapa seri business matching baik dengan pengusaha dalam negeri dan luar negeri.

“Menutup akhir tahun lalu, Smesco mengundang buyer dan pelaku bisnis yang berasal dari Brunei. Masing-masing UKM kami undang untuk membawa produk dan material promosi terkait produknya, hasil dari kurasi tersebut. Kami telah menjalin kerjasama bilateral antara Indonesia dan Brunei Darussalam,” katanya.

Ahmad Zabadi menegaskan, dalam waktu dekat, LLP-KUKM menyasar pasar Asia, Eropa dan UAE. Pihaknya berharap, berbagai program pendampingan KUKM berbasis perkuatan akses pasar yang digagas LLP-KUKM, harus diikuti pelaku UKM yang serius mau mempersiapkan bisnisnya untuk go internasional. (tety)

Leave a Comment