29.1 C
New York
20/06/2024
Aktual

GNRM: Semangat Gotong Royong Membangun Indonesia yang Lebih Baik

img_20161113_072136

JAKARTA (Pos Sore) – Banyak cara untuk menyosialisasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Salah satunya dengan melakukan senam bersama dan memainkan permainan tradisional Indonesia. Meski di tengah guyuran hujan, semangat ini tidaklah padam. Tetap membara.

Seperti yang terlihat di area Car Free Day, Jln. MH Thamrin, Jakarta, Minggu (13/11) pagi tadi. Masyarakat tampak begitu antusias mengikuti gerakan senam dalam rangkaian acara sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) bertema ‘Dalam Semangat Gotong Royong Mari Wujudkan Indonesia Melayani, Bersih dan Tertib’.

Deputi Kebudayaan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Haswan Yunaz, menjelaskan, program ini digagas untuk menindaklanjuti keberhasilan ‘Gerakan 1000’ hasil kerjasama antar K/L dan Pemerintah Daerah — Kemenko PMK, Kemenko Maritim, Kemenko Perekonomian, Bank Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta, membangun kepulauan seribu dalam membangun Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong.

“Semangat gotong royong membangun bersama di Kepulauan Seribu ini akan disosialisasikan untuk meningkatkan nilai-nilai strategis Revolusi Mental dalam masyakat yang lebih luas,” katanya.

Kegiatan sosialisasi yang dibuka plt. Gubernur DKI Jakarta Sumarsono, itu juga dihadiri Deputi SDM, Iptek dan Maritim, Kemenko Maritim Safri Burhanuddin.

Haswan Yunaz menyampaikan GNRM berawal dari keinginan berubah. Perubahan cara berpikir, cara bersikap, cara berperilaku menjadi pribadi dengan ciri berintegritas tinggi, etos kerja yang baik, dan gotong royong.

“Ciri berevolusi mental itu, pertama, memiliki integritas tinggi, kedua adalah etos kerja yang baik, dan ketiga mampu bergotong royong, bekerjasama untuk kebaikan bersama pula,” tambahnya.

img_20161113_073518

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono mengatakan, pelaksanaan GNRM ini sebagai bentuk aktualisasi untuk meneguhkan bahwa Indonesia harus berubah ke arah yang lebih baik.

“Jadi membangun Jakarta, Indonesia harus berangkulan tangan, tidak bisa sendiri apapun sukunya, kulitnya, jenis rambutnya itu adalah satu kesatuan,” tegasnya.

Yang harus disadari, Indonesia bukan bangsa malas, tapi bangsa yang memiliki profesionalisme dan kerja keras. Karenanya, membangun DKI Jakarta, Indonesia harus bersama-sama, tentunya dengan memperkuat integritas, membangun etos kerja, dan gotong royong.

Ia menambahkan, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan ras, namun itu menjadi satu kesatuan dan semua adalah saudara. “Kita semua saudara mau dari suku mana, mari kita membangun Indonesia, karena ini miniatur dari Bhineka Tunggal Ika,” tandasnya. (tety)

Leave a Comment