Meski penonton yang bukan orang Medan terkaget-kaget menyaksikan film terbaru dari PIM Pictures, itu para penonton tetap memberikan aplaus terhadap film bergenre drama-komedi itu.
Terbukti adegan demi adegan yang mengalir begitu saja berhasil mengundang tawa penonton. Ada harunya juga. Ada kesalnya juga. Ada sedihnya juga. Itu berarti, film ini sukses menyampaikan pesannya kepada penonton.
Persabahatan empat sekawan ini agak goyah setelah insiden perkelahian dengan siswa sekolah lain setelah pengumuman kelulusan. Perkelahian yang menyebabkan tangan Rafly Kisah patah. Kondisi ini yang membuatnya tidak bisa memasuki pendidikan TNI sebagaimana harapan ayahnya.
Akibatnya, sang ayah yang marah meminta ketiganya untuk tidak lagi menemui Rafly. Sesuatu yang tidak diketahui Rafly sehingga memunculkan rasa kecewa mendalam. Rafly mengira ketiga emannyalah yang meninggalkannya.
Ucok akhirnya merantau ke Jakarta untuk menjadi penyanyi, Joko mengejar karier menjadi pemain sepak bola sebagaimana idola Cristiano Ronaldo. Adapun Chisa meneruskan bisnis keluarga dan Rafly hilang tanpa kabar.
Empat tahun berlalu, akhirnya mereka kembali dipertemukan di Medan. Rafly yang kini berprofesi seorang fotografer tidak mau menemui ketiga kawannya ini.
Namun, ujian persahabatan ini berhasil mereka lalui dan kembali bersahabat. Mengingatkan bahwa persahabatan sejati tidak pernah luntur oleh apapun: jarak, waktu, usia, berbagai problematika hidup.
