20.3 C
New York
20/07/2024
Aktual

Euis : BPIPI Harus Mampu Serang Keluar

JAKARTA –Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Kementerian Perindustrian, Euis Saedah,mengungkapkan, sekitar 7.200 lulusan BPIPI (Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia) punya peran besar menghasilkan produk sepatu berkulaitas ekspor.

“Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)  BPIPI jangan hanya jadi pemain di dalam negeri,tetapi harus mapu menyerang keluar dan menyediakan portal melalui uji lab agar impor tak gampang masuk ke dalam negeri.”

Menurutnya, dengan adanya BPIPI, industri alas kaki tumbuh stabil setiap tahun kendati  belum memilliki kinerja siknifikan.Hingga 2013, Indonesai mampu memenuhi 3 persen pasar sepatu dunia atau sekitar US$3,86 miliar.

“Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)  BPIPI jangan hanya jadi pemain di dalam negeri,tetapi harus mapu menyerang keluar dan menyediakan portal melalui uji lab agar impor tak gampang masuk ke dalam negeri,” kata Euis di sela Pameran Sepatu Karya Indonesia untuk Dunia,Selasa (12/8) di Plaza,Kemenperin.

MEA menurutnya, adalah realita yang harus dihadapi dan merupakan tantangan besar. BPIPI berperan menyediakan pusat disain sepatu dan konsultan pelatihan.Harus bisa menyiapkan tenaga kerja handal dan terlatih secara profesional.”Karena tantangan ini juga sebagai peluang dalam industri alas kaki.Jangan hanya produksi alas kaki konvensional dengan bahan baku kulit sapi, buaya tetapi juga serat bambu.”

BPIPI harus memberikan layanan jasa pelatihan dan serifikat ahli sepatu yang kompeten. Testing sepatu safety shoes seperti untuk industri pertambangan sesuai SNI wajib. “Kalau ada yang mau masuk harus punya SNI wajib.”

Euis mengatakan, sekitar 1000 IKM siap hadapi pasar bebas MEA. Hanya saja, soal penurunan ekspor ke AS harus diantisipasi dengan penetrasi pasar ke Nigeria, Amerika Latin dan Asia. “Tapi ke Nigeria harus hati-hati dulu karena ada penyebaran virus ebola.”

Terkait target ekspor pada 2014 katanya, diperkirakan, bisa mencapai 11,6 miliar dolar (3 kali lipat) lebih hingga 100 persen hingga akhir 2014. “Target 11 persen dari 3 persen itu,paling tidak bisa capai 9 persen. Dengan asumsi negara tujuan ekspor kondisinya lebih baik dan strategis. “Saya optimis bisa capai 9 persen. Caranya dengan melakukan pelatihan, dan peningkatan produk inovatif.Saya berharap ada cabang BPIPI tidak hanya di Sidoarjo tetapi di seluruh Indonesia,seperti di Jakarta, Jabar sebagai pusat inovasi dengan standar yang sama tidak di bawah standar BPIPI.Apalagi BPIPI satu-satunya balai yang diakui di Asia Tenggara.” (fitri)

Leave a Comment