11.4 C
New York
29/04/2026
AktualEkonomi

Era New Normal, Institut STIAMI: Peluang Bisnis Terbuka Lebar

JAKARTA (Pos Sore) — Pandemi Covid-19 masih belum bisa dikendalikan. Setelah empat bulan berlalu dari masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akhirnya pemerintah memutuskan memberlakukan fase “new normal” atau “kenormalan baru” untuk memutar kembali roda ekonomi yang lesu sebagai dampak dari penerapan PSBB.

Bagaimana kalangan dunia usaha beradaptasi dengan kenormalan baru tersebut? Bagi pelaku usaha, dalam kondisi pandemik saat ini, selalu ada peluang yang terbuka. Indonesia Marketing Association (IMA) melihat perkembangan ekonomi yang terus turun, tapi diprediksi tetap positif.

Kondisi pandemi ini tidak bisa dibandingkan dengan krisis tahun 1998 maupun 2008. Kedua krisis tersebut terjadi secara ekonomi, dan tidak membatasi pergerakan masyarakat untuk tetap beraktivitas. Sehingga perdagangan masih bisa berjalan. Namun, saat ini mayoritas aktivitas ekonomi berhenti total.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kesiapan dunia usaha menghadapi new normal, Institut STIAMI pun mengadakan seminar nasional virtual yang membahas “Peluang dan Ancaman Indonesia Menuju New Normal dari Perpektif Dunia Usaha”, Minggu (21/6/2020).

Seminar yang diikuti 500 peserta itu menghadirkan pembicara yang berkompeten di bidangnya: Bima Laga (Bukalapak) yang membahas “Strategi Peningkatan Daya Saing Digital Marketing Menuju Era New Normal”; Lukman Nul Hakim, MM (dosen Institut STIAMI) yang membawakan materi “Peluang Usaha Bisnis Memenangkan Persaingan Menuju Era New Normal”.

Seminar yang dimoderati Nur Fitri Rahmawati, S.AB, MA (Ketua Program Studi Administrasi Bisnis Institut Ilmu Sosial dan Manajemen Stiami), ini juga menghadirkan pembicara Ajib Hamdani, owner Tanijoy.

Dalam pengantarnya, Dr. Novianita Rulandari S.AP, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Institut STIAMI menyampaikan pemerintah telah mengambil kebijakan era new normal di tengah pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda bakal berakhir. Era new normal tersebut ditandai dengan dibukanya kembali aktivitas masyarakat terutama terkait dengan ekonomi.

“Era new normal membolehkan masyarakat beraktivitas kembali, tetapi harus dengan mengadopsi perilaku hidup bersih dan sehat, seperti memakai masker ketika berada di ruang publik, menjaga jarak, tidak berkerumun, dan sering mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir,” kata Novianita.

Menurutnya, pandemi Covid-19 telah memberikan perubahan yang amat besar di hampir semua bidang. Baik kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. Semuanya terkena imbasnya bahkan untuk bidang ekonomi sebagian besar ambruk. Perhotelan, restoran, gym, penerbangan, dan lainnya.

“Namun, tidak semua bisnis langsung lesu darah. Bisnis yang berhubungan dengan makanan dan obat-obatan justeru mengalami kenaikan. Hanya saja, metode pemasarannya yang bergeser dari offline menjadi online,” tuturnya seraya menyebutkan seminar ini bertujuan membahas peluang dari perspektif dunia usaha bagi Indonesia menuju era new normal.

Yang harus disadari, ternyata di tengah pandemi Covid-19, e-commerce berkembang pesat. Orang mulai terjun ke dunia e-commerce baik sebagai konsumen maupun pedagang. Yang biasanya belanja secara retail, kini secara shipping (pengantaran). Satu sisi menjadi peluang tersendiri.

“Peluang bisnis kini terbuka lebar pada era new normal. Dan inilah yang harus diadaptasi oleh para mahasiswa maupun kalangan perguruan tinggi. Yang dituntut untuk segera beradaptasi dengan kondisi di lapangan. Dengan menciptakan bisnis dengan model baru, inovasi baru yang sesuai dengan tatanan baru. dan ini membutuhkan SDM andal dalam bidang tersebut,” katanya.

Ajib Hamdani, Owner Tanijoy menilai tidak semua sektor usaha mengalami dampak negative selama pandemi. Sektor usaha yang tertekan dan sulit untuk bertahan misalnya industry pengolahan, pertambangan, penggalian, ekspor barang tambang, penerbangan, energi, restoran, perhotelan, pariwisata dan perdagangan.

Adapun sektor usaha yang dapat bertahan antara lain perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, listrik, gas, air bersih dan pengangkutan. “Nah untuk sektor usaha makanan, kesehatan, teknologi informasi, produk kesehatan pribadi dan retail malah mengalami peningkatan,” katanya.

Bima Laga, AVP Public Policy & Government Relations Bukalapak, menyampaikan, selama pandemi Covid-19, belanja online mengalami peningkatan hingga 25 persen, belanja makanan meningkat 100 persen, belanja produk yang berkaitan dengan perlindungan virus meningkat 60,34 persen. “Jadi e-commerce meningkat signifikan dan ini tentu menjadi peluang usaha yng bisa dilakukan pada era new normal,” katanya.

Meski mengalami peningkatan, ia mengingatkan bahwa 66 persen penduduk Indonesia yang saat ini belum memiliki rekening bank. Fakta ini tentu menjadi kendala dalam hal pengembangan ekonomi digital ke depan.

Sementara itu Lukmanul Hakim, dosen Institut STIAMI menilai new normal tidak selalu menuntut perubahan bentuk bisnis.Bisa saja kita tidak perlu mengubah bisnis, tetapi hanya perlu mengubah caranya. Misalnya penjualan yang awalnya lebih kepada straregi offline, kini harus memperhitungkan cara-cara baru berupa online. “Adaptif dan kreatif sangat dibutuhkan, tidak sekedar inovasi. Orang harus mulai berpikir bagaimana mengubah produk, penyajian hingga strategi menawarkannya,” jelasnya. (tety)

Leave a Comment