
BEKASI (Pos Sore) — Program Studi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen (FISMA) Institut STIAMI menyelenggarakan Webinar bertajuk “Peningkatan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital untuk Mewujudkan Peluang Kerja yang Lebih Luas”, Minggu (25/4/2021).
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, berkesempatan memberikan keynote speech. Menteri mengajak mahasiswa Institut STIAMI sebagai generasi penerus bangsa mau melakukan kegiatan ekonomi kreatif berbasis digitalisasi untuk menghadapi persaingan global.
Sandiaga mendorong anak muda untuk memulai usaha rintisan atau start up mengingat digitalisasi sangat akrab di kalangan generasi muda. Ketika hampir semua aktifitas beralih ke digitalisasi, maka di situlah peluang yang bisa diambil anak muda.
“Contohlah Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, yang mencoba mengatasi permasalahan transportasi melalui pendekatan digital yang akhirnya melahirkan Gojek. Dan, siapa yang tidak kenal dengan transportasi online ini,” kata Sandiaga.
Menurutnya, transformasi digital menjadi kebutuhan saat ini. Terlebih ketika semua sendi perekonomian belum kunjung bangkit akibat pandemi Covid-19 yang belum juga menunjukkan kapan berakhir.

Namun, ternyata, selama pandemi Covid-19, industri digital kian berkembang, khususnya digital startup dengan sejumlah produk kreatif di dalamnya. Hingga kini, tercatat ada sebanyak delapan juta usaha ekonomi kreatif di Indonesia.
Indonesia, bahkan didaulat menjadi negara ketiga dunia — setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang industri ekonomi kreatifnya berkontribusi besar terhadap pertumbuhan domestik bruto (PDB) nasional.
Berdasarkan data Focus Economy Outlook 2020, ekonomi kreatif justru menyumbang sebesar Rp 1.100 triliun terhadap PDB Indonesia sepanjang tahun 2020.
“Tentunya hal ini menjadi prestasi tersendiri bagi Indonesia, meski dalam tantangan yang luar biasa menggoyahkan lingkup industri ekonomi bangsa. Industri kreatif memang dihantam krisis, orang yang bermental kreatif akan mampu beradaptasi dengan situasi apapun,” ujarnya.
Dari data tersebut menjadi bukti sektor ekonomi kreatif mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sebagai urutan ketiga dunia, Indonesia memiliki potensi untuk terus meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian kita. Tidak lupa, untuk selalu berkolaborasi agar nilai ekonomi dari produk/jasa kreatif bertambah.

Rektor Institut STIAMI Prof. Dr. Ir. Wahyuddin Latunreng, MM, menyampaikan Institut STIAMI tidak akan pernah diam untuk memberikan sumbangsihnya pada pembangunan perekonomian Indonesia, khususnya dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.
Terlebih saat ini, Institut STIAMI juga ikut memberikan pendampingan dan pelatihan kepada sejumlah desa untuk mengembangkan diri menjadi desa wisata. Dengan menghadirkan produk unggulan yang otentik sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing.
“Ini yang terus kita dorong, apa produk unggulan di suatu desa tersebut yang bisa kita kembangkan. Baik dari potensi alam, budaya, dan buatan atau karya kreatif yang otentik,” ujarnya.
Ia menambahkan, digitalisasi juga menjadi sesuatu yang menguntungkan buat para dosen dalam membuat publikasi ilmiah, melakukan penelitian, maupun mengikuti kajian-kajian ilmiah. Dengan digitalisasi, hasil-hasil kegiatan tersebut bisa menjadi jejak digital para dosen.

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan RI DR Adi Budirso, yang menjadi pembicara dalam seminar ini menyampaikan, kondisi ekonomi Indonesia mulai pulih bahkan diprediksikan menimgkat hingga 5 persen. Terkait kondisi ekonomi yang mulai membaik, dikatakan ada 3 kebijakan yang harus dilakukan terkait strategi peningkatan ekonomi kreatif berbasis digital.
Pertama, perkembangan Covid-19 perekonomian dan program pemulihan ekonomi nasional. Kedua, perkembangan ekonomi dan keuangan digital. Ketiga, strategi kebijakan dan dukungan pemerintah untuk pengembangan ekonomi dan keuangan digital.
Pembicara lainnya, Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata Prov. DKI Jakarta yang juga dosen Institut STIAMI Dr. Dadang Solihin, MA, mengatakan, ekonomi kreatif adalah penyumbang devisa yang besar dan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi bagi perekonomian Indonesia.
“Tetapi saat pandemi melanda di sektor ini sangat terdampak. Karena itu, dibutuhkan transformasi digital pelaku UMKM sektor ekraf dalam pemanfaatan teknologi,” ujarnya.
Koordinator Aplikasi, Direktorat Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kedeputian Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammad Azhar Iskandar Zainal, juga menjadi pembicara dalam seminar ini.
Ia menyampaikan, peningkatan ekonomi kreatif berbasis digital saat ini bertujuan untuk mendorong pariwisata, strategi dan arah kebijakan pengembangan pariwisata. Termasuk pengembangan kualitas SDM kelembagaan pariwisata yang berdaya saing, pengembangan pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif, pengembangan daya saing, destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dekan Ilmu Sosial dan Manajemen Institut STIAMI Yuli Evitha, SE, MA, menyampaikan kegiatan seminar nasional yang diikuti oleh 870 peserta, ini dilatarbelakangi oleh adanya penurunan kegiatan bisnis akibat dampak dari pandemi Covid-19. Seminar ini bertujuan untuk menganalisis strategi kebijakan fiskal yang diharapkan dapat mendukung ekonomi kreatif di era digital.
“Selain itu, di dalam seminar ini juga membahas terkait strategi meningkatkan ekonomi kreatif berbasis digital, dan juga peluang kerja dalam ekonomi kreatif berbasis digital,” katanya.
Ketua Seminar Nasional, Renisya Ayu Utami, MA menambahkan, seminar nasional juga diisi dengan kegiatan call for paper yang dikoordinir Team LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Institut STIAMI dengan jumlah 17 paper.
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada dosen dan mahasiswa untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka dalam bentuk presentasi makalah online, yang masih berkaitan dengan tema kegiatan seminar nasional. (tety)
