16.1 C
New York
24/04/2026
AktualNasional

Diseminasi Arsip Kemaritiman dan Gender, ANRI – Pelindo Gelar Seminar Dharma Samudera Pejuang Wanita Negara Poros Maritim Dunia

JAKARTA (Pos Sore) — Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), menyelenggarakan Seminar “Dharma Samudera Pejuang Wanita Negara Poros Maritim Dunia”, Selasa 17 Januari 2023.

Seminar dalam rangka Hari Dharma Samudera yang diperingati setiap 15 Januari, ini dibuka oleh Wakil Ketua
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Lestari Moerdijat.

Dalam sambutannya, Lestari mengatakan rekam jejak pahlawan perempuan-perempuan di bidang maritim bisa ditelusuri. Beberapa di antaranya mendapat pengakuan sebagai pahlawan atas perjuangannya, seperti Laksamana
Keumalahayati dan Martina Tiahahu.

“Arsip memiliki peran yang luar biasa. Sejarah mencatat banyak peran signifikan para perempuan yang menggagas berbagai macam perubahan dalam zamannya,” katanya.

Menurutnya, kegigihan setiap perempuan dalam mempertahankan wilayah laut hingga saat ini membuktikan bahwa hegemoni laut adalah sektor vital bagi tumbuh kembangnya sebuah kelompok masyarakat.

Kepala ANRI, Imam Gunarto menyampaikan, seminar “Dharma Samudera Pejuang Wanita Negara Poros Maritim Dunia” ini salah satu upaya untuk diseminasi program penyelamatan arsip kemaritiman dan arsip
gender.

Selain itu, meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penyelamatan dan pelestarian arsip kemaritiman dan gender sebagai Memori Kolektif Bangsa dan pemajuan budaya bangsa Indonesia.

“Ini menjadi upaya kita mengolaborasikan bagaimana menggunakan kembali semangat sejarah maritim, mendaur ulang sejarah masa lalu untuk mengikat seluruh bangsa kita melalui memori kolektif bangsa poros maritim dunia melalui perjuangan para tokoh wanita kebanggaan bangsa,” katanya.

Ia melanjutkan, banyak cerita hebat tentang masa lalu bangsa Indonesia, termasuk para pejuang wanita. Tapi tidak jarang kita sering kesulitan untuk mencari bukti kebenarannya secara ilmiah baik bukti arkeologis, bukti arsip, naskah maupun bukti akademis lainnya.

Kepala Perpustakaan Nasional, M. Syarif Bando, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan ANRI dan Perpusnas kerap
berkolaborasi dalam berbagai program dan kegiatan.

“Seminar ini menjadi ruang melahirkan
rekomendasi bagaimana kebijakan negara ini terhadap kebijakan kemaritiman,” jelas Syarif Bando.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PT Pelindo, Ihsanuddin Usman menyatakan kolaborasi kegiatan seminar nasional yang sangat bermanfaat ini merupakan sebuah kebanggaan bagi Pelindo.

“Sejak diberlakukannya merger
Pelindo pada 1 Oktober 2021 yang diresmikan Bapak Presiden di Labuan Bajo pada 14 Oktober 2021, Pelindo sudah tidak lagi terbagi menjadi empat, melainkan menjadi satu kesatuan,” ungkapnya.

Dalam konteks itu pula, Pelindo melihat hubungan kerja sama dengan ANRI menjadi sangat siginifikan. Sebagaimana disampaikan Kepala ANRI, ada darurat kearsipan yang ternyata juga dialami Pelindo.

“Bagaimana kami mengalami kesulitan ketika terdapat hal-hal yang harus kami telusuri. Terutama kami sebelumnya merupakan empat perusahaan yang memiliki pengelolaan arsip berbeda-beda,” terang Ihsanuddin Usman.

Pada seminar kearsipan tersebut dilaksanakan diskusi panel sesi pertama yang menghadirkan Pengamat Bidang Militer, Pertahanan dan Keamanan, Connie R. Bakrie dan Deputi Bidang Konservasi Arsip ANRI, Kandar sebagai narasumber.

Sedangkan Ketua Dewan Pakar Memori Kolektif Bangsa, Mukhlis PaEni turut serta sebagai pembahas dan Kepala Museum Bahari, Tinia Budiati sebagai moderator.

Connie menyatakan, ketika Presiden Jokowi menyatakan negara kita merupakan poros maritim dunia 2014, harusnya kita bisa berproses cepat. Bagaimana kita menempatkan negara itu pada posisi
tertinggi sesuai dengan kehormatannya.

“Artinya, jika kita memang negara yang ada di dua samudera, diapit oleh dua benua, itulah kehormatan kita,” terang Analis Pertahanan, Militer dan Intelijen ini.

Jadi, supremasi negara itu adalah bagaimana negara mampu menempatkan
pada tempat kita yang sesungguhnya dan Kalinyamat paham hal itu.

Sementara itu, Deputi Bidang Konservasi Arsip ANRI, Kandar menyatakan khazanah
arsip tentang kemaritiman yang tersimpan di ANRI.

Tidak saja sebagai bahan bukti
penyelenggaraan kehidupan berbangsa yang tercipta pada masa lampau, tetapi memiliki makna lintas waktu, lintas peristiwa, dan lintas geografi.

“Masalah kemaritiman yang bisa dihighlight ialah mengenai politik-pemerintahan, pertahanan-keamanan, ekonomi pembangunan, dan sosial,” jelasnya.

Ia menambahkan arsip kemaritiman dari
kementerian/lembaga sangat diharapkan untuk segera diserahkan agar dimilikinya database arsip kemaritiman.

Ketua Dewan Pakar MKB dan Komite MoW, Mukhlis PaEni mengungkapkan, kita sudah kehilangan budaya maritim yang tersisa adalah tradisi pesisir.

“Bagaimana kita menjadi bangsa maritim yang besar kalau kita tidak punya falsafat maritim? Itu yang menjadi pergerakan kita dan itulah yang harus dipincut untuk menjadikan manusia maritim,” jelasnya.

Sesi kedua diskusi panel menghadirkan Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erwiza Erman dan Arsiparis Madya ANRI, Nadia Fauziah sebagai narasumber dan moderator anggota Dewan Pakar Memori Kolektif Bangsa, Asep Kambali.

Sedangkan pembahas materi sesi kedua adalah aktivis perempuan Marcella Zalianty, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Prof. Endang Susilowati.

Prof. Erwiza menceritakan Kartini sebagai anak ke-5 dari 11 saudara, berasal dari
keluarga priyayi dengan budaya feodal Jawa yang sangat ketat. Dengan kelebihan yang dimiliki, Kartini bisa menikmati pendidikan di ELS.

Kegelisahan Kartini pun diutarakan ke
dalam surat-suratnya dengan menuangkan ide-ide tentang kemajuan, pendidikan,
kemandirian, dan ketidakadilan khususnya kepada wanita.

Ditambahkan oleh Nadia, memanfaatan arsip menjadi publikasi kearsipan yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan dinominasikan ke dalam Memory of The
World (MoW).

“Joint nomination untuk MoW untuk arsip gender sendiri ANRI bekerja dengan Universitas Leiden/KITLV. Ke depan kita juga akan bekerja sama dengan arsip Belanda,” jelasnya.

Marcella Zalianty sebagai pembahas menerangkan bahwa sosok pahlawan perempuan setelah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, maka perjuangannya tidak berhenti di situ saja.

“Kita sebagai penerus bangsa wajib mendedikasikan kerja keras untuk meneruskan perjuangan mereka,” papar Marcella.

Pembahas selanjutnya yakni Prof. Endang Susilowati. Ia menambahkan alasan Kartini begitu dikenal luas karena adanya glorifikasi terhadap Kartini.

Dalam sudut pandang Kartini, perempuan
yang modern bukan yang harus mampu bersaing dengan laki-laki melainkan perempuan yang bisa menjadi mitra sejajar dengan laki-laki, perempuan yang dihormati dan diterima eksistensinya.

Seminar “Dharma Samudera Pejuang Wanita Negara Poros Maritim Dunia” ini dihadiri peserta secara luring dan daring yang berasal dari kementerian, lembaga, Lembaga Kearsipan Daerah provinsi/kabupaten/kota, sejarawan, Jaringan Komunitas Sahabat Arsip, media massa, dan perguruan tinggi.

Leave a Comment