JAKARTA (Pos Sore) – Lembaga Administrasi Negara (LAN) menggelar Diklat Kepemimpinan Reformasi Birokrasi/Reform Leader Academy (RLA) Angkatan II. Diklta RLA yang difasilitasi Temasek Foundation Singapore dan Civil Service College Singapore ini diikuti 100 peserta dari beberapa Kementerian/Lembaga selama 4 bulan (Juli –Oktober 2015). Diklat ini diperuntukkan bagi pejabat eselon II dan III.
Plt. Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Adi Suryanto, M.si berpendapat birokrasi yang reform berperan sangat strategis dan kritikal dalam pencapaian tujuan-tujuan pembangunan. Di tengah berbagai upaya untuk melakukan reformasi birokrasi LAN memiliki dedikasi kebangsaan dengna turut berkontribusi dengan mempersiapkan para pemimpin birokrasi melakalui program pelatihan ini.
Menurutnya, sebagai negara besar, Indonesia menghadapi tiga tantangan yang harus diselesaikan Pertama, tingkat perubahan harapan masyarakat yang sangat cepat dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kecepatan ini bergerak menurut deret ukur, sedang perubahan birokrasi bergerak menurut deret hitung.
“Kedua, globalisasi yang semakin masif dan komprehensiif, terlebih pada tahun 2015 ini Indonesia memasuki Asean Economic Community dengan Asean Free Trade. Ketiga, sumberdaya alam yang semakin terbatas karena pemanfaatannya yang tidak terkontrol,” katanya pada Diklat RLA Angkatan II yang dibuka secara resmi oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, di Jakarta, Senin (27/7).
Dari ketiga tantangan besar yang harus diselesaikan negara, masalah birokrasi merupakan tantangan yang cukup berat untuk dihadapi. Karena itu, pihaknya berharap Diklat RLA bertema ‘Business Regulatory Frameworks’ ini dapat membentuk kompetensi kepemimpinan reformasi bagi para pemimpin organisasi pemerintah untuk menciptakan inovasi dan terobosan bagi perbaikan kesejahteraaan masyarakat dan dayasaing dunia usaha.
“Pola pikir yang dikembangkan dalam pelatihan ini adalah untuk membentuk kader pimpinan birokrasi yang kuat dan bisa berpikir jangka panjang, karakter kepemimpinan yang kuat, serta memiliki visi yang hebat,” tandasnya.
Berbeda dengan diklat kepemimpinan yang bersifat personal, diklat RLA ini bersifat lintas sektoral dengan durasi waktu 832 jam pelajaran. Pelatihanini lebih lama dari diklat kepemimpinan yang telah ada. Para peserta pun melalui seleksi lebih ketat seperti aspek psikologi dengan inventory kesiapan mengikuti diklat, authentic leadership, bahasa inggirus, assesemnet induvidu, karya tulis, dan wawancara.
“Diklat RLA ini diklat paling prestise saat ini, diharapkan menjadi suatu terobosan untuk mencetak 3000 reformers pada tahun 2025 dalam rangka mewujudkan world class leader,” ujarnya.
Yang harus digarisbawahi, Diklat RLA dan world class leader lebih mengutamakan pembentukan krakter, bukan sekedar pengetahuan teknis. Dengan harapan mampu menciptakan pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pimpinan mampun politik. (tety)

