9.1 C
New York
27/04/2026
AktualKesra

Dikelola dengan Baik, Air Menjadi Basis Kemakmuran Bangsa

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2012 – 2015, yang juga Ketua KKSS, dr. Zaenal Abidin, M.Hkes, menyampaikan, banyak negara yang runtuh karena pengelolaan air yang salah. Sebut saja kisah di negeri kuno Sumeria. Negeri yang awalnya makmur berubah menjadi malapetaka akibat bencana lingkungan.

“Ini adalah bencana yang pertama kali terjadi di muka bumi. Runtuhnya Negeri Sumeria diawali oleh salinasi air, yang menyebabkan terjadinya konsentrasi garam di tanah. Akibat salinasi tersebut, Negeri Sumeria gagal panen, kekurangan bebijian, hewan ternak kesulitan rumput, dan seterusnya. Negeri Sumeria berangsur-angsur menjadi lemah,” urainya.

Tidak ingin Indonesia mengalami nasib serupa akibat kesalahan pengelolaan air, mantan anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) ini pun menginisiasi mengadakan webinar “Air Basis Kemakmuran Suatu Bangsa”, Jumat (12/3/2021) malam.

Webinar ini hasil kolaborasi Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan), Bakornas Lembaga Kesehatan Himpunan Mahasiswa Islam (LKMI-HMI), dan www.sadargizi.com.

Menghadirkan narasumber Dr. dr. Muh. Khidri Alwy, M.Ag. (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia, Makassar), Prof. Dr. Anwar Daud, S.K.M., M.Kes. (Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar), dan dr. Ahmad Kadarsyah, M.Sc (Yayasan IKRA Padjadjaran).

Adapun yang menjadi penanggap dalam webinar yang dimoderatori Ns. Sarifudin, M.Sc, ini adalah Dr. dr. Lucky Tjahjono, M.Kes. (Emergency Medical Team PB Ikatan Dokter Indonesia /EMT PB IDI), Hasanuddin, S.IP. M.AP. (Literasi Sehat Indonesia/Universitas Bhayangkara Jakarta Raya), dan dr. Fachrurrozi Basalamah (Bakornas LKMI-HMI).

Mengapa air menjadi topik pembahasan? Karena, kata Zaenal, dari zaman dahulu, hingga sekarang, air memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa. Air menjadi salah satu sumber kehidupan mutlak bagi makhluk hidup, terutama umat manusia. Kebutuhan manusia akan air berlaku sepanjang masa dari zaman kuno sampai zaman modern saat ini.

Ia lantas teringat diskusi mengenai pengadaan air bersih pada 2017. Nara sumber yang saat itu Dr. Rusnandi Garsadi, penemu teknologi pengelolaan air bersih, yang ternyata dari teknologi ini dapat memproduksi air bersih yang cukup banyak dengan kualitas yang baik, yang airnya berasal dari air bakau.

“Air bersih ini lalu dipergunakan untuk keperluan water, sanitation and hygiene (WASH), dan sebagiannya disalurkan ke masjid/mushola untuk dipakai bersuci/wudhu,” ujarnya saat memberikan pengantar.

Teknologi mekanisme proses pengolahan air tanpa energi listrik ini berproses dengan sistem mengalir secara gravitasi, memisahkan polutan dan kotoran menjadi air bersih dengan menggunakan tawas yang mudah didapat di seluruh wilayah Indonesia dan menggunakan disinfectan kaporit yang juga mudah di dapat di Indonesia.

Kapasitas yang dapat dibuat menggunakan mekanisme proses microhydraulic ini, mulai dari yang kecil sampai kapasitas ribuan liter perdetik. Listrik untuk pompa kecil hanya diperlukan untuk mengalirkan air dari sungai ke pengolahan.

Ceritanya menjadi menarik, sebab setelah warga menggunakan produk air bersih ini, tidak ada lagi yang mau buang hajat dan buang sampah di sepanjang saluran air itu. Alasannya cukup sederhana. “Masa kami buang hajat dan sampah di sumber air yang akan kami pakai minum dan wudhu,” kata Zaenal mengutip perkataan warga.


Muhammad Khidri Alwy menyampaikan kisah runtuhnya Negeri Saba akibat kesalahan pengelolaan air. Negeri Saba’ adalan negeri yang disematkan Allah SWT dalam Alquran surat ke-34 dengan nama yang sama, Saba’. Dinamakan Saba’ karena dalam surah ini terdapat kisah kaum Saba’ yang berada di wilayah Arab Selatan.

Saba’ adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba. Ibu kotanya namanya Ma’rib.

Kerajaan ini berhasil membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma’rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur. Namun, seiring waktu para penghuninya pun menjadi lalai.

Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba’ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya. Mereka juga mengingkari seruan para rasul.

Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpakan azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib. Selanjutnya negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka pun hancur. Kemiskinan di mana-mana. Akhirnya, tamat pula riwayat Negeri Saba’.

Banyak pendapat yang menyebutkan bendungan itu runtuh karena alert system yang tidak jalan. Sebagian lagi mengatakan karena saat itu Negeri Saba’ telah berubah menjadi negeri sekuler, hedonis, riset berkurang, teknologi hidrolik stagnan bahkan diabaikan, mislokasi anggaran, perawatan bendungan diabaikan, korup, tidak bersyukur, kehilangan adab, dan lain sebagainya.

Negeri Saba’ dan Indonesia punya kemiripan dan kesamaan. Sama-sama dianugerahi wilayah yang subur dengan potensi pertanian dan perkebunan yang luar biasa. Belum lagi beragam sumber daya mineral yang terkandung di dalamnya.

Kita harus bisa menjadikan kisah Negeri Saba’ yang terukir dalam Alquran sebagai pembelajaran. Nasib negeri kita bisa saja seperti Negeri Saba’. Negeri yang awalnya subur makmur aman dan tenteram (baldah thayyibah) penuh dengan rahmat dan ampunan Tuhan (wa rabbun gafur) sekejap hancur menjadi daerah tandus karena sikap kufur penduduknya.

Lihat saja, hutan-hutan kita sudah banyak yang hancur karena dibakar dan dieksploitasi tanpa reboisasi. Sungai-sungai menjadi rusak dan keruh akibat penambangan, racun ikan, serta dampak kerusakan hutan dan tambang batu bara.

Jika kita tidak pandai menjaga dan memeliharanya, maka kerusakan dan bencana seperti yang menimpa negeri Saba’ di Yaman hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Karena itu, kita — penguasa dan rakyat, jangan sampai lupa diri. Kita harus memelihara dan mengelola bumi yang makmur dan melimpah. Bukan merusak dan mengksploitasinya tanpa disertai etika lingkungan.

“Jika hal ini kita abaikan, kelak tanah yang subur dan hutan yang hijau disertai limpahan hasil pertanian dan perkebunan bisa saja berganti menjadi kekeringan dan daerah gundul yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali tangisan dan nestapa. Sebagaimana kisah negeri Saba’,” tandasnya.

Sementara itu, Prof. Anwar Daud memberikan pandangannya. Katanya, air memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pembangunan berkelanjutan pada dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Sedangkan kesehatan manusia dan ekosistem, ketahanan pangan, serta perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan air baku. Kontribusi besar yang diberikan oleh sumber daya air turut mempengaruhi ketahanan energi dan ketahanan pangan.

Isu lain yang masih terkait erat dengan sumber daya air adalah perubahan iklim. Dampak negatif dari perubahan iklim akan sangat berpengaruh pada sistem dan pengelolaan sumber daya air.

Fenomena seperti perubahan pola dan curah hujan memerlukan dukungan dari bidang teknologi yang mampu beradaptasi dalam mengantisipasi pengelolaan sumber daya air.

“Puslitbang sumber daya air Kementerian Pekerjaan Umum di tahun 2011 menyatakan bahwa pulau di Indonesia dengan indeks ketersediaan air terendah adalah pulau Jawa, disusul oleh pulau Bali dan Nusa Tenggara,” sebutnya.

Selain itu, Brown dan Metlock (2011) juga menyebutkan bahwa saat ini pulau Jawa sudah mengalami tekanan air (water stress) yang dapat berujung pada kelangkaan air (water scarcity) seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk.

Sementara itu, Fachrurrozi Basalamah lebih menyoroti banjir yang selalu merendam Jakarta setiap tahunnya. Katanya, dari 13 sungai yang mengalir melalui Ibu Kota ditambah dengan 3 kanal banjir, tapi yang menjadi kewenangan Pemda DKI hanya 4 sungai.

“Selebihnya menjadi kewenangan pemerintah Pusat. Persoalannya seberapa peduli Pusat atas sungai yang melewati DKI?” ujarnya.

Akan halnya banjir di daerah-daerah lainnya, ia menyarankan agar memperbanyak kawasan konservasi melalu gerakan-gerakan kecil. Gerakan kecil bila dilakukan oleh banyak komunitas akan menjadi gerakan besar. “LKMI HMI ada di mana-mana, karena itu bisa menjadi lokomotif gerakan,” tandasnya.

Ia juga menyarankan perlunya advokasi agar daerah muara/hilir yang terdampak banjir diberi kewenangan mengurus sungai, baik mengolah, membersihkan maupun, membuat waduk/sumur resapan, ataupun menanam pohon. (tety)

Leave a Comment