04/05/2026
Aktual

Dicanangkan Komitmen Penanggulangan Kanker di Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) – Menteri Kesehatan Nila F Moeleok mencanangkan Komitmen Penanggulangan Kanker di Indonesia tepat pada Hari Kanker Se-Dunia pada 4 Februari 2015. Komitemen yang ditandatangani Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati G, Sp.Rad, perwakilan dari organisasi profesi, dan wakil ketua umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) ini juga diluncurkan website ‘kanker.kemkes.go.id’ yang berisi data kanker di Indonesia.

Komitmen Penguatan Kegiatan Penanggulangan Kanker di Indonesia berisi lima pernyataan. Pertama, menjadikan kanker sebagai salah satu prioritas masalah kesehatan nasional. Kedua, bersatu dan bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kanker, baik oleh pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat.

Ketiga, meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat tentang kanker dan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan. Keempat, merencanakan dan mengimplementasi program kerja serta paripurna dan berkesinambungan yang mencakup deteksi dini, tatalaksana, rehabilitatif, dan paliatif. Kelima, mendorong terbentuknya regulasi publik yang mendukung ‘hidup sehat hindari kanker’.

Menkes mengatakan, pencanangan komitmen penanggulangan kanker ini karena permasalahan kanker di Indonesia cukup besar. Setiap tahun diperkirakan ada 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Diperkirakan pada 2030 kejadian tersebut dapat mencapai hingga 26 jta orang dan 17 juta di antaranya meninggal. Peningkatan angka kejadian ini lebih cepat terjadi di negara miskin dan berkembang.

“Laporan Global Burden Cancer 2012 memperkirakan insidens kanker di Indonesia sebesar 134 per 100.000 penduduk. Estimasi ini tidak jauh berbeda dengan hasil Riskesdas 2013 yang mendapatkan prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk,” kata menkes, di gedung Kemenkes, Rabu (4/2).

Meningkatnya mortalitas dan morbiditas penyakit tidak menular, termasuk kanker, dikatakan menkes, berdampak pada pembiayaan yang besar. Laporan Jamkesmas menunjukkan pada 2012 pengobatan kanker menempati urutan ke-2 setelag hemodialisa yaitu mencapai Rp144,7 miliar.

Data BPJS pada periode Januari-Juni 2014 mencatat pengobatan kanker untuk rawat jalan menempati ururtan ke-2 dengan jumlah kasus 88.106 dan pembiayaan sebesar Rp124,7 miliar. Sedangkan untuk rawat inap menempati urutan ke-5 dengan jumlah kasus 56.033 dan pembiayaan sebesar Rp313,1 miliar.

“Kita patut bersyukur kita telah berhasil mengembangkan Jaminan Kesehatan Nasional yang paket manfaatnya menanggung deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di fasilitas kesehatan tingkat pertama,” kata menkes.

Menkes juga mengingatkan, untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari serangan kanker. Perilaku yang dimaksud meliputi melakukan aktifitas fisik secara benar, teratur dan terukur, makan makanan bergizi dengan pola seimbang, cukup buah dan sayur, serta mengelola stres dengan tepat dan benar.

“Terjadinya penyakit kanker terkait dengan beberapa faktor risiko seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun,” paparnya. (tety)

Leave a Comment