“Intervensi kami lakukan secara terukur agar stabilitas harga terjaga tanpa merusak mekanisme pasar,” jelas Dirut Bulog Ahmad Rizal. Intervensi ini terbukti membantu, namun kritik tetap muncul, distribusi SPHP yang belum merata di beberapa daerah serta perbedaan harga di tingkat konsumen menunjukkan bahwa koordinasi hingga tingkat pengecer masih perlu diperkuat.

Upaya menjaga keterjangkauan pangan juga dilakukan lewat Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar serentak di 4.337 titik di seluruh Indonesia—sebuah capaian yang bahkan mengantarkan BULOG meraih penghargaan MURI. Meski demikian, keberlanjutan GPM di luar momentum tertentu masih menjadi pertanyaan publik.
Dari sisi cadangan, hingga akhir 2025 stok PSO BULOG tercatat 3,25 juta ton, setelah sempat menyentuh 4,2 juta tonpada pertengahan tahun. Stok besar ini memberi rasa aman, namun sekaligus memunculkan tantangan klasik: pengelolaan, rotasi stok, dan kualitas penyimpanan agar cadangan tidak berubah menjadi beban.
Dalam situasi darurat, BULOG juga memainkan peran krusial. Sepanjang 2025, bantuan bencana mencapai 14.227 ton di wilayah Sumatera, dengan Aceh sebagai penerima terbesar. Ini mencerminkan tingginya risiko bencana sekaligus kebutuhan akan sistem logistik pangan yang lebih tangguh dan cepat.
Memasuki 2026, tantangan justru membesar. Negara menugaskan BULOG menyerap 4 juta ton setara beras, 1 juta ton jagung, serta menyalurkan 720 ribu ton Bantuan Pangan untuk 18 juta penerima selama empat bulan. Di sisi stabilisasi harga, 1,5 juta ton Beras SPHP akan kembali digelontorkan ke pasar.
Target besar ini mempertegas kepercayaan negara, tetapi sekaligus menguji kapasitas BULOG—mulai dari kesiapan gudang, pembiayaan, hingga koordinasi lintas kementerian. Rencana pembangunan 100 infrastruktur pascapanen menjadi langkah penting, meski publik tentu menunggu eksekusinya, bukan sekadar janji di atas kertas.
Pada akhirnya, kinerja BULOG tidak hanya diukur dari seberapa banyak beras diserap atau disalurkan, tetapi dari seberapa tenang masyarakat menghadapi fluktuasi pangan. Angka-angka boleh impresif, namun keberhasilan sejati adalah ketika petani merasa dilindungi, konsumen merasa aman, dan pangan tidak lagi menjadi sumber kecemasan.
Di situlah peran BULOG diuji—bukan hanya sebagai pengelola stok, tetapi sebagai wajah kehadiran negara di meja makan rakyat. (aryodewo)
