18/01/2026
AktualEkonomi

Di Balik Gudang Pangan Negara, Ada Angka, Ada Harapan, dan Ada Pekerjaan Rumah

POSSORE.ID, Jakarta — Pagi itu Jakarta belum sepenuhnya hangat. Di Kantor Pusat Perum BULOG, deretan angka dibuka satu per satu. Angka tentang beras, gabah, jagung, bantuan pangan, dan cadangan negara. Namun di balik angka-angka itu, sesungguhnya  ada cerita yang lebih besar, yaitu tentang petani yang menunggu kepastian harga, masyarakat yang berharap pangan tetap terjangkau, dan negara yang diuji kesiapannya menjaga perut rakyat tetap tenang.

Dalam Konferensi Pers Awal Tahun, Jum’at (2/1), Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyebut 2025 sebagai tahun konsolidasi peran BULOG dari hulu hingga hilir. Sebuah fase penting ketika BULOG tidak hanya hadir sebagai pengelola stok, tetapi sebagai penyangga stabilitas sosial.

“Tahun 2025 adalah momentum penguatan peran BULOG sebagai stabilisator pangan nasional. Fokus kami melindungi petani, menjaga cadangan pangan, dan memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan yang stabil dan terjangkau,” ungkap Ahmad Rizal memulai percakapan.

Sepanjang 2025, BULOG katanya mencatat pengadaan beras nasional setara beras sebesar 3.191.969 ton. Angka ini berasal dari penyerapan 4,53 juta ton Gabah Kering Panen (GKP)—tertinggi sepanjang sejarah BULOG—ditambah Gabah Kering Giling dan beras. Bagi BULOG, capaian ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda kehadiran negara di sawah-sawah petani.

“Kami turun langsung ke lapangan, memastikan gabah terserap dengan harga sesuai ketentuan pemerintah,” kata Ahmad Rizal. Namun di lapangan, cerita tak selalu sesederhana rilis resmi. Tantangan distribusi, keterbatasan gudang di daerah tertentu, hingga kecepatan penyerapan di masa panen puncak masih menjadi pekerjaan rumah yang kerap disuarakan petani dan pengamat. Penyerapan tinggi memang penting, tetapi kecepatan dan pemerataan serapan menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani kecil.

Di sisi lain, BULOG juga mencatat pengadaan jagung dalam negeri sebesar 101.968 ton, mayoritas melalui skema PSO (Public Service Obligation)  atau sering disebut  Penugasan Pelayanan Publik. Angka ini membantu menjaga harga produsen, meski volumenya masih relatif kecil dibanding kebutuhan nasional yang fluktuatif.

Peran BULOG paling terasa di hilir, ketika harga mulai bergejolak. Sepanjang 2025, BULOG menyalurkan 708 ribu ton Bantuan Pangan bagi masyarakat rentan, serta 803 ribu ton Beras SPHP dan 51.211 ton SPHP Jagung untuk menahan laju kenaikan harga di pasar.

Leave a Comment