POSSORE.ID, Depok — Pagi itu, Balai Sidang Universitas Indonesia di Depok terasa berbeda. Bukan sekadar ruang akademik, melainkan tempat bertemunya ilmu, pengalaman lapangan, dan harapan besar tentang masa depan pangan Indonesia. Di sanalah, Senin (5/1) Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menuntaskan satu bab penting dalam perjalanan intelektualnya.
Dengan tenang dan penuh keyakinan, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani S.Sos., S.H., M.Han. resmi menyandang gelar Doktor usai menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Indonesia. Sidang tersebut digelar oleh Program Doktor Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI.
Disertasi yang dipertahankannya berjudul “Transformasi Tata Kelola Kolaboratif Pascapanen Padi Berkelanjutan di Indonesia dengan Pendekatan Soft System Methodology-Based Multimethod.” Sebuah kajian yang lahir dari persinggungan panjang antara praktik kebijakan, pengalaman lapangan, dan pendekatan ilmiah.
Sidang terbuka itu dipimpin Ketua Penguji Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., dan dihadiri sejumlah tokoh nasional. Wakil Presiden RI ke-13 KH Ma’ruf Amin tampak hadir, bersama Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta para undangan dari berbagai kalangan.
Sebagai promotor, Prof. Dr. Sudarsono Hardjosoekarto mendampingi promovendus, bersama ko-promotor Dr. Evi Frimawati, S.Pt., M.Si. dan Dr. Rachma Fitriati, M.Si. (Han). Tim penguji yang hadir mencerminkan lintas disiplin ilmu dan kebijakan publik, termasuk Menteri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. sebagai salah satu penguji utama.
Dalam pemaparannya, Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa pascapanen bukan sekadar tahapan teknis, melainkan simpul strategis dalam sistem pangan nasional. Ia menilai, tata kelola pascapanen padi yang kolaboratif dan berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi, menekan kehilangan hasil, serta memperkuat kesejahteraan petani.
“Pascapanen merupakan simpul strategis dalam sistem pangan nasional. Tata kelola yang kolaboratif, adaptif, dan berbasis keberlanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi kehilangan hasil, serta memperkuat kesejahteraan petani,” ujarnya di hadapan majelis penguji.
Pendekatan Soft System Methodology (SSM) berbasis multimethod yang digunakan dalam disertasi ini dinilai mampu menjawab kompleksitas persoalan pascapanen padi—yang tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga sosial, kelembagaan, dan keberlanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang juga bertindak sebagai Penguji 1, menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut Ahmad Rizal sebagai sosok yang tidak hanya menulis gagasan, tetapi telah lebih dulu menjalankannya di lapangan.
“Saya salut dengan Bapak Ahmad Rizal ini, karena sudah melakukan baru menulis. Kalau biasanya orang menulis dulu baru melakukan,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan hadirin.
Ketua Penguji Prof. Supriatna turut menyampaikan apresiasi atas kualitas akademik promovendus. Ia mencatat, Ahmad Rizal Ramdhani merupakan doktor ke-249 yang diluluskan Program Studi Ilmu Lingkungan UI, sekaligus doktor ke-15 dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Sudarsono Hardjosoekarto menegaskan bahwa disertasi ini memiliki nilai strategis bagi kebijakan publik. Menurutnya, penelitian tersebut menempatkan persoalan pascapanen padi sebagai isu sistemik yang melibatkan aktor, kepentingan, dan dinamika kelembagaan.
“Melalui pendekatan SSM-based multimethod, penelitian ini memberikan kerangka konseptual dan operasional yang dapat menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan maupun praktisi pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Pencapaian akademik ini bukan sekadar gelar, melainkan penegasan komitmen pimpinan Perum BULOG dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan praktik lapangan. Sebuah ikhtiar yang sejalan dengan agenda besar pemerintah untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan.
Di ruang sidang itu, satu pesan terasa kuat, yaitu ilmu bukan hanya untuk disimpan di rak perpustakaan, tetapi untuk bekerja—bersama petani, kebijakan, dan masa depan pangan Indonesia. (aryodewo)
