24.2 C
New York
25/07/2024
Aktual

Dalam Sekejap, 17 Ribu Takir Jenang Ludes

SOLO (Pos Sore) — Sebanyak 17.000 takir jenang menandai penyelenggaraan Festival Jenang Solo (FJS) 2014 di Koridor Ngarsopura Mangkunegaran, Minggu (23/2). Kegiatan yang menjadi rangkaian HUT Kota Surakarta ke-269 tersebut menarik ribuan warga baik dari Kota Solo maupun kota-kota yang lain.

Pantauan Pos Sore, masyarakat tampak tidak sabar menunggu untuk dibukanya even tahunan yang menginjak kali ke-tiga tersebut. Alhasil, masyarakat menyerbu sejumlah stand yang menyediakan aneka ragam jenang, seperti jenang sumsum, jenang lemu, jenang grendul dan masih banyak yang lain. Dan, dalam sekejap, 17 ribu takir jenang tersebut ludes diserbu warga Solo dan sekitarnya.

Salah seorang warga Jebres, Sukarti (42) mengaku bahwa dirinya sejak pukul 07.00 WIB telah berada di lokasi penyelenggaraan FJS 2014. Ia bersama dengan putra laki-lakinya memang berniat untuk menikmati sajian jenang yang memang disediakan gratis oleh pihak panitia.

“Sejak pukul 07.00 WIB, saya sudah di sini. Karena lapar, jadi menyerbu ke stand-stand jenang. Meski, beliau (Walikota Solo Solo) belum datang,” ucap perempuan yang setiap harinya berjualan buah di Kawasan Pasar Gede.

Senada, Mustakim (26) mengatakan dirinya memang tertarik untuk menyantap sajian tradisi sarat filosofi tersebut. Mengingat, di festival tersebut berbagai macam jenang tersaji secara gratis.

“Pastinya ingin mencicipi satu persatu. Meskipun harus ngantri,” kelakar pria asal Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon tersebut.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Jenang, Heru Mataya mengatakan Festival jenang dengan mengusung tema “Inspirasi 17 Macam Jenang yang Mengiringi Boyongan Keraton Kartasura ke Keraton Surakarta” merupakan wujud komitmen Yayasan Jenang Indonesia (YJI) bekerjasama dengan Pemkot Solo untuk melestarikan tradisi masyarakat Jawa.

“Eksistensi jenang pada tradisi masyarakat Jawa sudah hidup mengakar sejak zaman Hindu, dan era Walisongo sampai masa kini. Jenang selalu hadiri sebagai simbol ungkapan rasa syukur-Nya,” jelas Heru.

Heru menyebutkan, ke-17 jenang yang disajikan dalam fetival jenang itu antara lain, jenang abrit petak, jenang lang, jenang saloko, jenang manggul, jenang suran, jenang timbul, jenang grendul, jenang sumsum, jenang lahan, jenang pati, jenang kolap.

Selain itu ada jenang ngangkrang, jenang taming, jenang lemu mawi sambal goreng, jenang koloh, jenang katul serta jenang warni empat.

“Dari 17 jenis yang kita sajikan, ada satu jenang yang memiliki makna filosofi penciptaan manusia antara laki laki dan perempuan, yaitu jenang abrit putih. Di sini jenang menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia semua isinya harus kita jaga. Agar tidak terjadi malapetaka atau bencana,” tambah Ketua Dewan Pembina Festival Jenang, Slamet Raharjo. (dra)

Leave a Comment