06/05/2026
Aktual

Caregiver Berperan Penting Tingkatkan Kualitas Hidup Penyandang Demensia

JAKARTA (Pos Sore) — Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan pada 2015 terdapat 47,5 juta orang hidup dengan demensia dan setiap tahunnya ada 7.7 juta kasus terganggunya fungsi intlektual atau fungsi berpikir yang umumnya dialami orang yang berusia lanjut ini.

Demensia sendiri ditandai dengan gejala seperti mudah lupa, disorientasi, gangguan komunikasi, menurunnya kemampuan menganalisa dan kurang mampu mengambil keputusan. Gangguan tersebut akan berlangsung kronik dan semakin lama dirasakan tambah berat.

Spesialis syaraf Siloam Hospitals Lippo Village Dr. dr. Rocksy Fransisca, SpS menjelaskan, penyandang demensia mengalami kemuduran fungsi kognitif secara bertahap disertai penuruan dalam aktivitas sehari-hari.

Terkadang pula muncul gangguan perilaku seperti mudah marah, curiga, menarik diri, agitas, apatis, depresi, insomnia, hiperinsomnia, bahkan sampai ke gangguan yang lebih berat seperti delusi, halusinasi, dan waham,

“Demensia umumnya menyerang usia lanjut sekitar usia 65 tahun, namun dapat pula mengenai usia yang lebih muda. Hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit dimensia. Pengobatan yang ada saat ini hanya untuk menghambat probabilitas penyakitnya,” terangnya.

Ia memaparkan hal itu dalam Seminar dan Pelatihan untuk Caregiver atau pendamping penyandang Demensia bertajuk ‘Peran Penting Caregiver dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Penyandang Demensia’, di Auditorium Siloam Hospitasl Lippo Village, Karawaci Tangerang, Sabtu (10/12).

Pelatihan ini adakan oleh Klinik Memory and Aging Center (MAC) Siloam Hospitals Lippo Village bersama tim ahlinya. Tujuannya, agar keluarga maupun caregiver perlu memahami tentang penyakit dimensia dan tata cara penanganannya. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi dampak negatif bagi caregiver itu sendiri, seperti merasa frustasi, putus asa, mudah marah, bahkan depresi.

latih

Dokter Rocksy yang juga pelatih caregiver pada seminar tersebut, menambahkan, masalah yang dihadapi penyandang demensia sering bersifat kompleks sehingga memerlukan perhatian serta perawatan khusus terutama bagi keluarga/penjaga/pendamping pasien atau yang disebut caregiver.

Ia menekankan, keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai caregiver terdekat dalam merawat dan mendampingi penyandang demensia. Namun, peran ini dapat pula diserahkan pula kepada petugas professional (caregiver).

Diakuinya, pelayanan optimal dengan memberikan kasih sayang yang tulus didukung dengan lingkungan yang nyaman dalam merawat penyandang demensia dapat memberikan dampak positif pada perjalanan penyakit ini.

img-20161210-wa0009

Sementara itu, CEO Siloam Hospitals Lippo Village, Anastina Tahjoo, menjelaskan, Klinik Memory and Aging Center (MAC) Siloam Hospitals Lippo Village sejak tahun 2008 melayani deteksi dini atau skrining gejala demensia.

“Semakin awal gejala dideteksi, semakin cepat ditangani, dan semakin baik harapan untuk mempertahankan fungsi otak si pasien. Semakin lambat dideteksi, semakin komplekslah masalah yang akan dihadapi pasien maupun keluarganya,” kata Anastasia.

Di MAC, lanjut Anastasisa, deteksi dini dan terapi dilakukan oleh tim yang terdiri dari spesialis saraf dan psikolog. Melalui acara ini MAC berupaya membantu pendamping pasien melalui dua cara.

Pertama, yaitu melalui seminar penyampaian konsep dan pengetahuan dasar mengenai perawatan penyandang demensia oleh dokter spesialis maupun psikolog. Kedua, melatih keterampilan dalam merawat penyandang demensia terutama dalam menangani masalah yang timbul sehari-hari.

“Harapannya, melalui seminar dan pelatihan ini maka informasi yang benar mengenai demensia bisa disampaikan dengan baik, sekaligus membuka wawasan kita bersama bahwa caregiver bagi penyandang demensia tidak boleh sembarangan orang. Perlu dilatih agar mereka bisa memahami perilaku penyandang demensia dengan benar,” tambah Head of Business Development, Siloam Hospitals Lippo Village, Alexander Mutak.

Seminar dan Pelatihan yang pertama kali diadakan ini diikuti peserta dengan berbagai latar belakang berbeda seperti para dokter, perawat, serta masyarakat umum. Untuk mengetahui sejauh mana respon positif dari para peserta juga diadakan survey kilat seputar seminar yang telah digelar tersebut. (tety)

Leave a Comment