JAKARTA (Pos Sore) — Dalam waktu 1-2 hari ke depan, adalah waktu yang pas untuk mencari AirAsia yang hilang. Dalam pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada 30-31 Desember 2014 cuaca sangat kondusif untuk melakukan proses pencarian AirAsia QZ8501 yang hilang.
“Ini waktu yang optimum untuk melakukan pencarian. Dikatakan kondusif karena curah hujan tidak begitu tinggi, hanya shower atau gerimis. Tinggi gelombang laut juga hanya 1,5 meter. Inilah golden time untuk mencari,” jelas Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, di kantor BMKG, Senin (29/12).
Ia melanjutkan, memasuki tanggal 2-3 Januari 2015, dalam cuaca kondisi ‘bahaya’ karena dalam pantauan BMKG ada tanda merah yang harus diwaspadai. Pada tanggal ini gelombang ombak mencapai ketinggian 3 meter dan curah hujan yang cukup tinggi.
“Meski begitu, proses pencarian terus saja dilakukan mengingat awan dan cuaca selalu bergerak dinamis. Setiap hari kami selalu updating karena pertumbuhan awan cb atau Comulonimbus memang lagi aktif karena puncak musim hujan,” paparnya.
Dikatakan, dalam awan cb banyak sekali kejadian seperti petir, es, turbelensi, dan lain-lain, yang memang harus dihindari. Embeded Cb ini menyebar di berbagai wilayah dan meluas
BMKG sendiri, katanya, sudah memberikan gambaran citra satelit kepada pihak angkasa pura. Biasanya, pihak Angkasa Pura yang akan membuat flight plan. Begitu pula dengan mekanisme dan prosedur penerbangan. Sebelum terbang mengambil flight document.
“Kami pikir pihak Angkasa Pura sudah mempunyai basis informasi,” tambahnya.
Bagaimana dalam waktu 7 hari ke depan? Menurut pantauan, ada awan yang menutup Kalimantan dan Sumatera, sehingga berbahaya untuk melakukan penerbangan. Begitu pula awan yang berada di utara Sumbawa dan utara Ternate, serta di Piliphina yang dapat mengganggu penerbangan.
Keberadaan awan Cb jelas harus dihindari. Awan ini awan yang paling ditakuti oleh penerbang. Awan ini, satu-satunya awan yang dapat menghasilkan muatan listrik Tornado alias puting beliung.
Sebelumnya, pesawat komersial Air Asia dengan rute perdana Surabaya-Singapura dilaporkan hilang kontak sekira pukul 06.15 WIB pada Minggu (28/12). Hingga kini pesawat dengan 155 penumpang itu belum ditemukan.
Pesawat tersebut dipiloti Kapten Iriyanti serta kru Remi Emmanuel Plesel, Wanti Setiawati, Khairunnisa Haidar Fauzi, Oscar Desano, Wismoyo Ari Prambudi dan teknisi Saiful Rakhmad.
Pesawat ini mengangkut 155 orang penumpang yang terdiri dari dewasa 138 orang, anak-anak 16 orang, dan satu orang bayi. (tety)
