JAKARTA (Pos Sore) — Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Andi Eka Sakya, menjelaskan pada periode arus mudik 19-25 Juni 2017 diperkirakan hujan masih akan terjadi di wilayah Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua Barat serta Jawa bagian Barat dan Tengah.
“Menjelang Lebaran 2017, kondisi cuaca diperkirakan akan bervariasi. Di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara cuaca cenderung cerah-berawan,” kata Andi, di gedung BMKG, Jakarta, kemarin.
Andi menyebutkan, beberapa lokasi masih terdapat potensi hujan ringan-sedang pada sore hari, khususnya di Jawa bagian Barat. Karenanya, masyarakat yang berkendara dihimbau agar tetap mencermati daerah-daerah yang berpotensi hujan yang dapat memicu resiko kecelakaan.
Pada saat lebaran pada 25 Juni, Andi memaparkan, hujan ringan sedang berpeluang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan.
Selain itu, di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Sementara hujan sedang-lebat terjadi di Kalimantan Utara dan Papua Barat.
Pada periode libur lebaran (26 Juni-2 juli 2017) diperkirakan hujan intensitas sedang lebih banyak terjadi di Wilayah Sumatera, Kalimantan Barat dan Tengah, Sulawesi tenggara dan Maluku. Sedang di Jawa bagian Barat masih berpotensi terjadi hujan ringan.
Andi Eka menuturkan awal Juli 2017 (2-9 Juli 2017) wilayah Sumatera dan Kalimantan Barat yang tadinya ada peluang hujan intensitas sedang, justru relatif kering sehingga perlu diwaspadai terjadinya kebakaran hutan. Sementara hujan lebat akan terjadi di Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua Barat.
BMKG memprakirakan pada periode Mei – Juni sebagian wilayah Indonesia (38%) sudah masuk musim kemarau. Sedangkan di wilayah Sulawesi, Kalimantan dan Sekitar Khatulistiwa peluang hujan masih tinggi.
Awal Musim Kemarau tahun 2017 di sebagian besar wilayah di Indonesia diprakirakan mundur (48.2%), sama (33.5 %) dan maju (18.3 %).
“Puncak musim kemarau 2017 diprakirakan bulan Juli – September 2017. Musim kemarau yang berlangsung Juni sampai Oktober 2017 diprediksi tidak akan sekering 2015 dan tidak sebasah 2016,” Andi Eka Sakya menambahkan.
Lalu mengapa musim kemarau hujan terjadi di beberapa wilayah, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Banten Maluku, Riau, Jambi, Riau, Papua dan Sulawesi Selatan?
Andi Eka menjelaskan, kondisi ini diakibatkan adanya anomali suhu muka laut 1 – 2,5 derajad celcius di sekitar wilayah selatan Malaka, selatan Hindia Barat Aceh – Lampung, selatan Karimata, Laut Jawa, dan Laut Natuna.
Selain itu, Perairan NTT, Laut Timor, Laut Flores, Laut Banda, Teluk Bone, Laut Sulawesi, Laut Seram, Teluk Cendrawasih dan Samudeta Pasifik Utara Papua, sehingga mengakibatkan menambahkan pasokan uap air.
Sementara angin umumnya bertiup dari Timur – Tenggara. Kecepatan angin signifikan di Laut Flores, Laut Banda, Maluku, Laut Arafura, Papua bagian Selatan.
Kelembapan udara di lapisan 850 -700 mb cenderung basah pada awal Juni 2017 sehingga proses konveksi lokal masih dapat menyebabkan hujan di beberapa lokasi. (tety)

