20.9 C
New York
05/05/2026
Aktual

Besok, Presiden Jokowi Canangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah

Setia Budi-20150930-00568

    Dirjen P2PL Muhammad Subuh, menyaksikan pemeriksaan penyakit kaki gajah

JAKARTA (Pos Sore) – Mulai 1 Oktober hingga 30 hari ke depan, Kementerian Kesehatan mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah atau Belkaga. Selama satu bulan itu, puskesmas akan membagikan obat filariasi atau kaki gajah.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Muhammad Subuh, mengatakan, sebanyak 195 kabupaten dan kotamadya menjadi target gerakan nasional ini. Jumlah penduduk yang disasar mencapai 105 juta jiwa. Diharapkan pada 2020, Indonesia sudah mencapai status eliminasi kaki gajah.

Program itu menjadi legasi bagi Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla karena penyakit ini mengancam 105 juta penduduk Indonesia di 195 kabupaten dan kota. Program Belkaga itu akan dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 1 Oktober 2015 di Cibinong, Jawa Barat, dan juga dilakukan gubernur di setiap provinsi.

“Selama lima tahun ke depan pembagian obat filariasis secara massal ini diyakini mampu memutus mata rantai penularan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu. Pada 1970-an prevalensi kaki gajah masih 19,7 persen. Dalam 45 tahun kita bisa dturun jadi 4,6 persen dan diharapkan pada 2020 bisa di bawah 1 persen,” katanya, di Jakarta, Rabu (30/9).

Jika semua penduduk di daerah endemis serempak minum obat sesuai anjuran, maka diharapkan rantai penularan cacing filaria penyebab kaki gajah akan terputus. Adapun obat yang dibagikan di puskesmas dalam program ini ada 2 macam yakni Albendazole dan DEC (Diethylcarbamazine citrate).

Keduanya merupakan obat yang umum dipakai untuk membasmi cacing. Meski obat tersebut tidak memiliki efek samping, namun sangat tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak di bawah 2 tahun, ibu hamil, pasien gangguan hati atau ginjal, dan penderita penyakit berat. Pemberian obat tersebut bisa ditunda hingga si anak berusia di atas 2 tahun, si ibu habis melahirkan, dan orang yang sakit berat sembuh dari sakitnya.

Subuh mengatakan, program pengendalian penyakit kaki gajah ini menelan anggaran hingga Rp 150 miliar meliputi 241 kabupaten kota endemis filarasis.

Kaki gajah merupakan penyakit menular menahun disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui nyamuk, sehingga menimbulkan kecacatan menetap. Penyakit ini bisa menurunkan kualitas SDM dan menimbulkan kerugian ekonomi.
‎ ‎
Indonesia sendiri menjadi negara dengan penderita kaki gajah terbesar kedua di dunia setelah India. India sudah melakukan eliminasi sejak tahun 2000, dan penderitanya semakin berkurang. “Jangan sampai kita menjadi yang nomor satu,” tandasnya. (tety)

Leave a Comment