JAKARTA (Pos Sore) — Memasuki hari kedua kunjungannya ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampil sebagai pembicara utama dalam forum bisnis yang digelar di Hotel Shangri-La Jing’an, Shanghai, pada Sabtu (3/9).
Dalam acara yang dihadiri pelaku usaha RRT itu, Presiden Jokowi menyampaikan optimismenya mengenai perkembangan ekonomi di Indonesia. Ia menyebutkan, meskipun kondisi perekonomian dan politik global yang tak menentu, Indonesia sama sekali tidak memiliki rasa pesimis dalam menghadapi situasi tersebut.
Justru, lanjut Presiden, di tengah tantangan yang muncul menghadang, terdapat sebuah kesempatan besar yang dapat dimanfaatkan.
“Kami tidak memiliki sikap pesimis. Di balik tantangan, terdapat sebuah kesempatan. Kesempatan untuk membangun ekonomi kami, kesempatan untuk membuat ekonomi kami menjadi lebih berkelanjutan, kesempatan untuk meningkatkan ekonomi kami agar tersedia lapangan pekerjaan bagi pekerja kami,” ungkap Presiden.
Presiden menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sejak 2012 mengalami perlambatan ekonomi. Namun, pemerintah tidak tinggal diam. Indonesia harus mereformasi perekonomiannya dan tetap menatap maju menghadapi segala tantangan yang ada.
“Untuk menghadapi perlambatan ekonomi tersebut, sejak menampuk pemerintahan, kami langsung meluncurkan program pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah negeri kami,” ungkap Presiden.
Pemerintah, lanjut Presiden, pada September 2015, juga melakukan deregulasi kebijakan ekonomi untuk mengurangi aturan-aturan yang dapat menghambat perkembangan industri dan bisnis di Indonesia. Dan sejak saat itu, sebanyak 13 paket kebijakan ekonomi telah dikeluarkan pemerintah.
Menurut Presiden Jokowi, pada awal tahun ini, upaya tersebut mulai terlihat hasilnya. “Tingkat pertumbuhan GDP kami pada kuartal IV tahun lalu menunjukkan kenaikan dari 4,9 persen menjadi 5,08 persen. Kemudian di kuartal VI tahun ini, tingkat pertumbuhan GDP kami mengalami penurunan lagi menjadi 4,91 persen. Tapi di kuartal VI tahun ini kembali meningkat menjadi 5,18 persen,” papar Presiden. (tety)
