14.9 C
New York
24/04/2026
Aktual

Berita ”Munajat 212” Menjadi Artikel Terpopuler

Possore.com — Acara ‘Munajat 212’ yang digelar di Monas, Kamis malam (21/2} mendapat perhatian luas masyarakat. Acara yang digagas oleh MUI DKI Jakarta dan Lembaga Dakwah Front (LDF) FPI itu diklaim dihadiri ribuan orang. Doa bersama, salat berjamaah dan tausiyah menjadi agenda dari acara tersebut.

Pemberitaan terkait ‘Munajat 212’ itu juga menjadi artikel paling terpopuler di VIVA.co.id, pada Jumat, 22 Februari 2019. Ada tiga artikel di VIVA terkait ‘Munajat 212’ yang mendapatkan respon pembaca paling tinggi. Bahkan dua artikel paling populer di laman VIVA.

Pertama, doa Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat mengikuti acara Munajat 212 di kawasan Monas, Kamis malam, menjadi sorotan pembaca VIVA pada Jumat, 22 Februari 2019. Pada intinya, Fahri berdoa agar dalam munajat ini agar dapat menyingkirkan kepemimpinan yang munafik.

Hajat yang disampaikan Fahri itu disampaikan setelah merenung dan melihat berbagai persoalan yang dialami bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Ia berharap kepemimpinan yang munafik akan tumbang.

Artikel kedua yang juga menjadi sorotan pembaca VIVA, adalah video Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang diputar pada acara ‘Munajat 212’. Habib Rizieq menyuarakan penegakan hukum yang suka-suka sesuai selera.

Habib Rizieq Shihab menyampaikan pesan kepada massa Munajat 212. Lewat video audio yang diputar, Habib Rizieq menyuarakan penegakan hukum yang suka-suka sesuai selera.

Rizieq menyindir penegakan hukum yang tak adil membuat rakyat menderita. Salah satunya koruptor yang bebas dengan potongan tahanan. Ia membandingkan dengan figur seorang ustaz tua renta yang tak dibebaskan dari penjara.

“Koruptor cukong membuat rakyat menderita dan sengsara bebas dengan potongan tahanan luar biasa. Sedangkan seorang ustaz tua korban rekayasa tak dilepas dari penjara. Inikah penegakan hukum suka-suka, astaghfirulah,” ujar Habib Rizieq dalam video audio yang diputar di Monas Jakarta, Kamis malam 21 Februari 2019.

Dia pun menyoroti ketidakadilan dalam penegakan sanksi terhadap kepala daerah yang ikut bermain politik dukungan di Pilpres 2019. Ia mengkritik pemanggilan atas Gubernur DKI Anies Baswedan karena pose dua jari sebagai dukungan terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sumber: Viva

Leave a Comment