JAKARTA (Pos Sore) — Keberlanjutan pembangunan Indonesia di masa depan berada di tangan generasi-generasi saat ini. Karenanya, sebagai generasi berikutnya, bayi yang baru lahir, perlu diperhatikan asupan gizi dan nutrisinya agar tumbuh kembangnya optimal.
Begitu pula dengan bayi lahir prematur. Di saat hari lahirnya ini menjadi hari yang paling berbahaya dalam hidupnya. Saat itulah risiko kematian dan kecacatan membayang-bayangi bayi mungil yang lahir belum waktunya itu.
Dr. Setyo Wandito SpA (K). M. Kes, dokter spesialis anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, menjelaskan, bayi dikatakan lahir prematur, jika lahir dalam usia kehamilan 23 minggu atau kurang dari 37 minggu. Bayi yang lahir prematur sangat rentan terhadap infeksi mengingat masih rendahnya ketahanan tubuh si jabang bayi sehingga memunculkan berbagai permasalahan kesehatan.
“Misalnya permasalahan pernapasan, nutrisi, kuning, perdarahan intracranial atau perdarahan di dalam tulang tengkorak. Perdarahan ini bisa terjadi di dalam otak atau di sekeliling otak. Selain itu, masalah pendengaran, mata, pertumbuhan tulang, neurologi, tumbuh kembang, bahasa dan motorik, anemia. Sebagian besar disebabkan belum matangnya fungsi-fungsi organ bayi yang dilahirkan prematur,” kata Setyo yang juga tim medis Perinatal di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta
Salah satu hal yang paling ditakuti dari kelahiran bayi prematur adalah paru-paru yang belum matang. Kondisi tersebut akan membuat bayi mengalami kesulitan bernapas. Untuk mengatasinya, dokter anak akan mendiagnosis hal tersebut dari pemeriksaan klinis, rontgen dada, dan pemeriksaan laboratorium bayi.
Dikatakan, bayi membutuhkan bantuan oksigen dan tekanan udara ke dalam paru-paru, serta pada kasus yang berat bayi membutuhkan alat bantu napas serta pemberian preparat surfaktan.
Terapi oksigen yang diberikan kepada bayi yang lahir prematur dan memiliki masalah pernapasan harus diperhatikan dosisnya. Jika tidak, bisa meningkatkan risiko-risiko yang dikhawatirkan.
“Pemantauan terhadap bayi yang lahir prematur menjadi sangat penting. Kelahiran bayi prematur membutuhkan penanganan kompleks, yang melibatkan banyak dokter spesialis,” tandasnya.
Dikatakan, penanganan bayi prematur bukan sekedar hanya mempertahankan bayi hidup. Tetapi juga bagaimana menjamin kualitas hidup si bayi ke depan. Kita juga harus memastikan tumbuh kembang anak.
“Tumbuh kembang anak yang baik akan menghasilkan sumberdaya manusia yang baik. Tidak cacat. Normal. Bahkan kalau bisa lebih berkualitas dibanding bayi-bayi yang lahir normal,” ujarnya. (tety)
