14.9 C
New York
25/04/2026
AktualEkonomi

Balitbang KP Lakukan Kajian Stok Ikan Nasional 2015

JAKARTA (Pos Sore) — Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) melakukan Kajian Stok Ikan Nasional 2015. Survei untuk menghasilkan kajian ini didukung oleh lima kapal riset.

Lima kapal riset itu meliputi kapal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Southeast Asia Fishery Development Center (Seafdec).

“Tahun ini yang pertama kalinya kita akan melakukan kajian untuk 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP),” kata Kepala Balitbang KP, Achmad Poernomo, terkait Kajian Stok Ikan Nasional 2015 yang diluncurkan, di wilayah Sulawesi Utara, Sabtu (25/4).

Ia menyebutkan untuk melakukan kajian itu anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp44,4 miliar. Angka ini meningkat lebih dari 1000% dibanding anggaran 2 tahun lalu.

Pihaknya berharap kajian ini dapat meningkatkan kualitas data secara revolusioner, meningkatkan akurasi potensi dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan di Indonesia bagi peningkatan kesejahteraan nelayan di Indonesia.

Ia menandaskan, Kajian Ikan Hias ini sesuai amanat Pasal 7 (1) UU No. 31/2004 tentang Perikanan, dan UU No 45/2009 tentang Perubahan atas UU No 32/2004. Adapun Menteri Kelautan dan Perikanan, bertugas menetapkan potensi dan alokasi sumber daya ikan, di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI).

“Sebenarnya kami telah berulang kali melakukan kajian stok sumber daya ikan di Indonesia. Dalam kurun waktu 1997-2013, setidaknya sudah ada 8 kajian stok yang dilakukan, yaitu pada 1997, 1999, 2001, 2005, 2008, 2009, 2011, dan 2013,” ungkapnya.

Kajian stok ikan nasional 2015 akan melibatkan tim peneliti terpadu, yang berasal dari Balitbang Kelautan dan Perikanan, perguruan tinggi, dan LIPI, mengunakan metode analitik dan holistik (sapuan, akustik, dan statistik perikanan).

Sumber data yang dipakai adalah hasil penelitian berdasarkan survei laut di 11 WPP. Data juga akan dikumpulkan dari pangkalan pendaratan di seluruh Indonesia oleh 219 enumerator.

Secara umum, metode kajian stok sumber daya ikan di Indonesia sejak dilakukan pada 1970-an digolongkan menjadi dua kelompok metode, yaitu analitik dan holistik.

Metode holistik menggunakan parameter populasi lebih sedikit dibandingkan dengan model-model analitis. Sementara, metode analitik didasarkan atas deskripsi yang lebih rinci dari stok dan lebih membutuhkan data masukan yang baik dalam hal kualitas dan kuantitas.

“Karena itu, model analitik lebih terpercaya untuk dapat memberikan prediksi yang lebih akurat,” ujarnya.

Kedua metode tersebut juga digunakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC), dan Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT).

“Sebenarnya, kajian stok pada tahun 2013 dilakukan dengan menggunakan kualitas data yang lebih baik dan melakukan kajian yang lebih detail terhadap kelompok ikan, dengan demikian hasil kajian tersebut lebih akurat dari kajian stok sebelumnya,” ujarnya.
  
Meski begitu, peningkatan akurasi kajian tetap diperlukan. Masalah utama akurasi kajian stok terletak pada kualitas data masukan, bukan pada  metode. Peningkatan kualitas data sangat tergantung pada pendanaan dan pada dekade terakhir anggaran kajian harus diakui belum memadai. Karenanya Program Kajian Stok Nasional ini diadakan. (tety)

Leave a Comment