02/05/2026
Aktual

Bali Deklarasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental

JAKARTA (Pos Sore) — Kemenko PMK memberikan apresiasi langkah Provinsi Bali menjadi pelopor dalam Deklarasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Deputi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Bidang Koordinasi Kebudayaan Haswan Yunaz, mewakili Menko PMK Puan Maharani, mengatakan, GNRM bukanlah program instan yang dapat diwujudkan dalam hitungan hari.

“Ini proyek nasional jangka panjang yang membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya, di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Bali, Sabtu (2/1).

Sementara itu, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meminta agar Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) tidak terhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus dimaknai dengan sungguh-sungguh.

“Bali menjadi provinsi pertama yang secara resmi mendeklarasikan GNRM ini,” tandasnya.

Kebulatan tekad dalam mendukung dan menyukseskan gerakan yang terkait dengan perubahan perilaku ini diwarnai dengan penghancuran dan pembakaran papan yang bertuliskan sejumlah karakter yang menjadi penghambat gerakan revolusi mental.

Deklarasi GNRM ini tertuang dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry, dan Sekda Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun selaku Koordinator Umum GNRM Provinsi Bali.

Ada 18 karakter yang harus dilawan dan dihancurkan dalam mendukung gerakan revolusi mental ini. Di antaranya, selalu berpikir negatif, suka menunda pekerjaan, tidak fokus, kurang percaya diri, selalu pesimis, malas, masa bodoh, mudah menyerah, serakah, egois atau mementingkan diri sendiri, boros, tidak jujur, anti perubahan, menghindari tanggung jawab, tak memiliki komitmen, meremehkan mutu, feodal, dan munafik.

“Karakter itulah yang sekarang ini mendominasi kehidupan sebagian besar masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi itu membuat perkembangan bangsa menjadi sangat lambat dan jauh ketinggalan dibandingkan bangsa lainnya.

Pastika lalu mencontohkan perkembangan negara Singapura. Negara yang luasnya jauh lebih kecil dari Pulau Bali itu mengalami kemajuan yang sangat pesat.

“Kita punya luas wilayah tujuh kali lipat dari negara tersebut dan punya potensi alam yang jauh lebih besar. Tapi kenapa negara itu bisa jauh lebih maju,” ujarnya.

Menurut Pastika, kemajuan Singapura antara lain dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya dalam mengelola potensi yang ada.

“Sementara kita yang kaya akan potensi, malah jadi manja dan lembek,” tandasnya seraya menegeskan karakter yang cenderung merugikan itu harus diperangi dalam GNRM.

Pastika meminta, deklarasi GNRM yang ditandai dengan penghancuran dan pembakaran hambatan dan tantangan dimaknai dengan sungguh-sungguh serta tak terhenti pada kegiatan seremonial.

Deklarasi ini, kata dia, bukan untuk gagah-gagahan.Deklarasi yang diawali dari Bali ini diharapkan dapat memberi vibrasi positif ke seluruh penjuru tanah air.

“Ayo kita mulai gerakan revolusi mental dari diri sendiri,” ajaknya.

Dalam gerakan revolusi mental, ujar Pastika, tiap individu bisa memulainya dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, tepat waktu, dan berlomba-lomba untuk berbuat baik.

Orang nomor satu di Bali ini juga berbagi tips dalam mewujudkan etos kerja yaitu melalui kerja keras, kerja cerdas, kerja berkualitas, kerja iklas dan kerja tuntas.(tety)

Leave a Comment