12.5 C
New York
10/05/2026
Aktual

Agribisnis Outlook 2017: Optimis Swasembada Padi

JAKARTA (Pos Sore) – Pergantian tahun tinggal menghitung hari. Bagaimana prospek industri agribisnis pada tahun mendatang? Apakah program swasembada komoditi utama yaitu padi, jagung dan kedele masih bisa terealisasi?

Tampaknya masih penuh dengan tantangan yang perlu mendapat perhatian dan dukungan pemerintah. Untuk komoditi padi, para pakar merasa optimis program swasembada padi dapat dicapai dibandingkan dua komoditi lainnya

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dwi Iswari, mengatakan, Kementerian Pertanian telah mulai membatasi impor jagung sejak pertengahan 2015 sehingga industri pakan ternak yang bahan utamanya adalah jagung harus bergantung pada produksi lokal.

Namun ternyata, pasokan lokal masih tidak bisa memenuhi kebutuhan jagung secara berkesinambungan bagi industri pakan ternak yang mencapai sekitar 8 juta ton per tahun.

“Pemerintah mengantisipasi hal ini dengan meningkatkan fasilitas sarana produksi jagung berupa benih, pupuk dan pestisida untuk lahan seluas 3 juta hektar, meningkat 10 kali, dibanding luasan lahan yang difasilitasi di tahun 2016,” papar dalam Seminar Nasional Agribisnis Outlook 2017, di Jakarta, Kamis (15/12).

Sementara itu, Direktur Program Pasca Sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor Arief Daryanto, yang menjadi narasumber dalam seminar tersebut menambahkan, keberlangsungan industri pakan ternak ini sangat penting.

“Mengapa, karena unggas adalah sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Saat ini 64 persen kebutuhan protein hewani dipenuhi dari unggas yang konsumsi per kapita per tahun telah mencapai sekitar 11 kilogram pada tahun 2015,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan Jagung, menurut Irvan Kolonas, CEO dan Founder PT Vasham Kosa Sejahtera, diperlukan kemitraan. Pihaknya sendiri sudah melakukan kemitraan di Lampung dengan menggunakan konsep wirausaha sosial untuk mendukung program swasembada yang dicanangkan pemerintah.

“Kami melakukan kemitraan petani jagung dari ujung ke ujung, mulai dari memberi akses pada benih, pelatihan, pembiayaan, sampai kepada penjemputan jagung petani dengan segala tingkat kadar air untuk dikeringkan di fasilitas pengeringan jagung (corn dryer) milik Vasham,” ungkap Irvan.

Konsep wirausaha sosial ini memadukan konsep bisnis yang dilakukan perusahaan dengan misi sosial. Profit yang diperoleh akan diinvestasikan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan dampak sosial. (tety)

Leave a Comment