24.2 C
New York
25/07/2024
Aktual

4 Hal Penyebab Hasil Quick Count Bermasalah

JAKARTA (Pos Sore)  –  Keberadaan lembaga-lembaga survey yang melakukan hitung cepat dalam Pilpres 2014 kini betul-betul menjadi sosotan. Selain perbedaan hasil yang bertolak belakang antarlembaga survey sehingga memunculkan gagasan perlunya mereka diaudit, muncul juga semacam teror yang tak urung memancing komentar dari Prabowo Subianto, capres no urut 1, yang menyesalkan kenapa terjadi teror itu.

Sementara seorang peneliti yang juga surveyor dari Indo Barometer, M Qodari, Sabtu (12/7) memaparkan berbagai hal terkait hasil survey lembaga-lembaga tersebut, di mana ada yang memenangkan Prabowo Subianto dan ada yang memenangkan Jokowi. “Kalau quick count ini anomali, ada 4 jenis pelaku,’’ kata Qodari yang lembaganya sendiri, Indo Barometer, sengaja tidak ikut menghitung cepat hasil Pilpres 2014.

Yang pertama, pelaku tidak memahami metode sampling dengan baik sehingga sampel tidak representasif terhadap populasi.
Kedua ialah apabila pelaku paham metodologi tapi pelaksanaan teknisnya berantakan. “Misalnya data di lapangan tidak akurat atau data yang masuk sistem eror. Ini faktor teknis,” ujarnya saat diskusi di salah satu restoran di Jakarta.

Ketiga, ialah saat pelaku tidak memahami metodologi, dan parahnya  pelaku tidak turun ke lapagan.
“Tidak punya kerangka sampel TPS, tidak punya relawan, tidak punya data center. Jadi data yang disampaikan pada publik bukan dari lapangan tapi ngarang alias fiktif,” papar Qodari.

Keempat, dan ini yang paling berbahaya, ialah ketika pelaku memahami metodologi dan teknis pelaksanaan, tapi hasil yang muncul di lapangan sengaja diubah. ‘’Diutak-atik sesuai kebutuhan, ini berbahaya,’’ ujar Qodari.

Sebelumnya, diberitakan, lembaga survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) dilempar molotov. Kantor Poltracking juga mengaku mendapat teror lewat telepon dan disambangi orang tak dikenal.

Belum diperoleh hasil pengusutanpihak kepolisian, apakah memang benar ada teror, dan pelakunya dari kelompok mana. Yang pasti, sejumlah kantor lembaga survei disebut-sebut juga mendapat penjagaan dari polisi seperti Saiful Mujani Research & Consulting, Indikator Politik Indonesia, Cyrus Network dan CSIS.

Capres Prabowo Subianto mengaku prihatin dengan aksi teror terhadap lembaga survei. Prabowo menyebut tindakan teror tidak boleh dilakukan. “Itulah yang kita sesalkan kenapa harus seperti itu? Kenapa harus ada tindakan-tindakan negatif dan kita juga sesalkan,” kata Prabowo di  Jakarta, kemarin. (lya)

Leave a Comment