25 C
New York
20/06/2024
Aktual Gaya Hidup

Waspadai Gaya Hidup Berisiko Neuropati

Menggunakan sepatu hak tinggi atau high heels bagi sebagian wanita di jaman modern ini bagian yang tak bisa dipisahkan dari gaya hidup sehari-hari. Namun, ternyata gaya hidup ini dapat menyebabkan neuropati atau kerusakan saraf.

“Perempuan yang sering menggunakan sepatu hak tinggi atau high heels, sebanyak 79% mengaku merasakan kebas dan 67% sering merasakan kesemutan. Gejala-gelaja ini diakui sering timbul ketika atau pasca aktivitas dengan gerakan berulang tersebut, pada saat cuaca dingin dan saat bangun pagi,” kata Irwan Wijaya, Group Brand Manager Divisi Consumer Health PT Merck Tbk, dalam media workshop ‘Waspadai Gaya Hidup Beresiko Neuropati’, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ironisnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan Neurobion, sebanyak 90% masyarakat Indonesia tidak mengerti neuropati. Padahal penyebabnya akibat aktivitas sehari-hari dan gaya hidup yang dapat menyebabkan kerusakan saraf yang kini diderita usia yang semakin muda.

Berdasarkan penelitian itu juga, masyarakat yang sering menghabiskan waktu melakukan aktivitas dengan gerakan berulang (repetitif) merasakan gejala neuropati seperti kebas dan kesemutan. Hasil riset juga membuktikan, 1 dari 2 orang usia di atas 30 tahun telah mengalami gejala neuropati. Sebanyak 1 dari 4 orang merasakan gejala neuropati pertama kali di usia 26-30 tahun.

“Padahal, neuropati ini merupakan kondisi kerusakan saraf yang seharusnya dialami oleh mereka yang berusia 40 tahun ke atas,” tambah Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), konsultan neurologis dari Departement Neurologi FKUI/RSCM, dalam kesempatan yang sama.

Tak hanya penggunaan sepatu hak tinggi saja yang bisa memicu neuropati. Hasil riset yang dilakukan dengan sampel tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Medan, dan Palembang, menemukan masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya dengan melakukan aktivitas dan gaya hidup beresiko neuropati. Antara lain, mengetik dengan gadget (61,5%), mengendarai motor dan mobil (58,5%), duduk dalam waktu yang lama dengan durasi 5-7 jam (53,7%), aktivitas dengan gerakan berulang seperti mencuci, memasak, menyapu (54,4%), mengetik dengan komputer 5(2,8%).

Dr. Manfaluthy menjelaskan, kebiasaan mengetik komputer sudah menjadi keseharian terutama pekerja perkantoran. Gerakan berulang-ulang pergerakan tangan ke atas dan ke bawah dapat menyebabkan tendon di pergelangan tangan mengalami peradangan dan akhirnya menekan saraf di daerah pergelangan tangan.

“Banyak masyarakat yang tidak menyadari aktivitas dengan gerakan berulang dapat menyebab neuropati. Keluhan seperti kesemutan, kebas, nyeri, serta kelemahan pada pergelangan dan telapak jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat berisiko menyebabkan gangguan saraf yang lebih berat, seperti keluhan,” tambahnya.

Namun, menurutnya, neuropati dapat dicegah. Caranya, memperbaiki gaya hidup dengan mengupayakan gizi seimbang, olahraga teratur, istirahat cukup untuk regenerasi sel saraf dan konsumsi vitamin 1x sehari sejak dini secara teratur. Vitamin neurotropik terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

“Neurobion merupakan kombinasi vitamin neurotropik yang berfungsi untuk pemeliharaan kesehatan saraf dan memperbaiki sel saraf penyebab gejala kesemuatan dan kebas, khusus bagi penderita diabetes membutuhkan dosis vitamin yang lebih tinggi,” tambah dr. Fatimah Pitaloca, Medical Manager, Divisi Consumer Health PT Merck Tbk. (tety)

Leave a Comment