Artinya, walaupun terdapat segelintir atau sebagian kecil pihak yang tidak terpuaskan karena bukan bagian dari kelompok tersebut, maka secara mayoritas dan akumulatif sebuah kinerja dianggap telah cukup untuk memberikan kepuasan.
Namun, perasaan nyaman dan aman yang panjang dan berlebihan akan memudarkan kewaspadaan atau kepedulian pada keamanan (sense of security awarness).
Stabilitas politik yang diawali koalisi mayoritas Partai politik (Parpol) peserta Pemilu, bukan berarti menutup pemikiran kritis dan perilaku agitatif lawan politik. Peningkatan kualitas pertahanan dan keamanan karena perbaikan infrastuktur dan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), serta pemberdayaan dan pengerahan SDM seiring evaluasi anggaran.
Tentu masih memiliki celah untuk terjadinya konflik terbuka maupun konflik tertutup yang tak terdeteksi.
Potensi gangguan keamanan di ingkungan masyarakat selalu ada. Mulai dari gangguan bersifat politis seperti aksi unjuk rasa, sengketa kekuasaan dalam partai atau organisasi masyarakat (ormas) serta statement elit yang memicu kegaduhan.
Berikutnya gangguan bersifat kriminal murni seperti tawuran warga, pencurian, pembunuhan dan sejenisnya yang membawa keresahan. Terakhir gangguan yang diakibatkan kelalian atau bencana alam seperti kebakaran, banjir, gempa dan sejenisnya yang berdampak kerugian materil juga korban jiwa.
Serangkaian gejala dan indikasi masih terdapat potensi konflik dan gangguan keamanan di masyarakat, maka pemerintah dan seluruh stakeholder jangan menjadi lemah apalagi mengabaikan upaya-upaya penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Pertanyaannya, (1) bagaimana konsep membangun Kamtibmas yang relevan dengan masyarakat masa kini? (2) Bagaimana penyuluhan yang dapat diterapkan untuk merealisasikan konsep Kamtibmas tersebut?
