25 C
New York
20/06/2024
Aktual

Terungkap, buruknya Pilpres di Papua

JAKARTA (Pos Sore) – Giliran saksi-saksi dari wilayah Provinsi Papua dicecar majelis hakim konstitusi pada sidang lanjutan  perkara sengketa Pilpres 2014 (PHPU –  ) yang kembali digelar, Selasa pagi (12/8). Tak kurang dari 20 saksi diajukan  pemohon (tim hukum Prabowo – Hatta) pada sidang  yang dipimpin Hamdan Zoelva  (juga Ketua Mahkamah Konstitusi) ini.

Terungkap, betapa  hancur dan rusaknya penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2014.Setidaknya di sejumlah wilayah atau kabupaten.
Sidang diawali dengan mengambil sumpah 20 saksi tim Prabowo-Hatta sekita pukul 09.10 WIB. Di antara saksi, terlihat, dua saksi rekapitulasi pusat. Saksi lainnya, umumnya  saksi di rekap berbagai tingkatan yang akan menguatkan gugatan Prabowo-Hatta di MK.

Di antara termohon, selain kuasa hukum juga terlihat komisioner KPU di antaranya Sigit Pamungkas, Ida Budhiati dan Hadar Nafis Gumay.

Sidang yang berjalan Selasa pagi ini, terlihat serius tapi santai. Ada suasana kocak, walau tak berarti tidak serius dan tak penting. Seorang saksi dari Kabupaten Dogiyai, misalnya, agak terbata mengaku tidak mengajukan keberatan saat rekapitulasi hasil ppilpres diadakan di tingkat kabupaten.

‘’Kenapa (Sdr) tidak mengajukan keberatan  saat rekapitulasi di KPU?’’

‘’Tidak yang mulia, demi keselamatan dan keamanan diri saya,’’

‘’Kenapa pada saat itu sdr takut untuk menyampaikan keberatan? Pertanyaan ini tidak dijawab.

‘’Apa ancamannya?’’ Kejar majelis, juga tak dijawab .

Saksi lain yang memberi  keterangan lengkap dengan data-data tertulis malah menyebutkan adanya intervensi dalam penyelenggaraan Pilpres di  salah satu kabupaten di Papua.  Ketika  kuasa hukum dari Termohon, misalnya, mendesak intervensi yang disebutkan dari siapa, saksi menyebut salah satu kasus. ‘’Kapolres,’’ katanya.

Saksi lain, tampil lugas blak-blakan. Seorang wanita muda, terlihat asli Papua,ngomong blak-blakan namun memancing gelak tawa para hadirin dan majelis hakim konstitusi. ‘’Kampung Saudara  di mana? Jauh?….’’

Belum tuntas anggota majelis bertanya, langsung dia menjawab, ‘’Jauh…Bapak, kami di gunung. Pemerintah tahu itu, jangan bodoh-bodohi terus kami, tugas mereka sosialisasi biar kami-kami tahu.’’

‘’Berapa jauhnya desa Anda dari  distrik?’’ Kejar anggotqa Majelis.

‘’Tiga ratus kilometer yang mulia…’’ Karuan saja semua hadirin berdecak, begitu jauh?  Namun sebelum rasa heran muncul, wanita itu meralat ucapannya.

‘’Eh…maaf Bapak,namanya manusia, bukan Tuhan, yang benar 30 kilo meter (dia lalu melirik ke arah kanannya, seolah minta bantuan dari teman-temannya) …eh tiga kilo…eh yang benar 300 meter, maaf’’ kata wanita itu lagi dengan gayanya yang lugas dan blak-blakan. Semua hadirin tertawa, termasuk Ketua Majelis Hamdan Zoelva.

Seperti  pada tiga kali sidang terdahulu, sidang kali ini juga mendapat kawalan dari para pendukung Praha (Prabowo- Hatta) yang kembali memenuhi area depan gedung dan Jalan Merdeka Barat. Sekitar 1500 polisi dikerahkan, lengkap dengan kendaraan pengaman.

Massa pendukung Praha ini tetap dengan orasi dan yel-yel yang menuntut netralitas hakim-hakim Mahkamah Konstitusi. (lya)

Leave a Comment