25 C
New York
20/06/2024
Aktual Gaya Hidup

Tak Selamanya Cinta Dari Mata Turun ke Hati

Cinta berawal dari mata turun ke hati. Begitu yang diyakini orang-orang yang tengah mabuk cinta. Kalau cinta berawal dari aroma ketiak? Mengapa tidak. Inilah hasil penelitian. Cinta juga bisa datang dari indera penciuman. Bahkan, dianggap paling ideal untuk menemukan cinta sejati.

Hasil penelitian itu diumumkan pada Edinburgh International Science Festival. Aroma seseorang bisa mengungkap kesehatan yang dimilikinya. Dan, ini menjadi faktor penting saat memilih pasangan.

Untuk menguji teori itu, para ilmuwan melakukan speed dating night bertajuk ‘Sin Academy’. Peserta yang ikut ditutup matanya, lalu diminta mencium ketiak orang asing secara acak. Kemudian dipilih, mana aroma yang disukai.

“Semua orang berpikir cinta timbul dari pandangan pertama, padahal banyak indera lain yang terlibat. Dan aroma adalah salah satu yang paling kuat,” papar Dr Zoe Cromier yang mendalami ilmu hedonisme dan daya tarik, sebagaimana dilansir Daily Mail.

Hasil kencan kilat itu, banyak orang yang akhirnya jatuh cinta pada aroma tubuh tertentu. Tandanya, bagi seseorang aroma itu akan cukup memabukkan layaknya obat. Itu disebut dengan lokus MHC yaitu gen kompleks yang menentukan aroma seseorang.

“Gen kompleks itu juga menentukan sistem kekebalan imun dan kemampuan tubuh melawan penyakit,” tambah Cromier.

Menurutnya, manusia diciptakan untuk tertarik pada seseorang yang memiliki gen yang kuat dan berbeda. Fungsinya agar keturunan mereka memiliki kesempatan lebih besar dalam melawan penyakit.

Pada 2006 Edinburgh University juga melakukan penelian dengan kesimpulan sama. Sebanyak 45 persen dari peserta wanita dalam satu acara kencan kilat dan 22 persen pria, memutuskan tertarik dengan lawan jenisnya hanya dalam 30 detik pertemuan mereka.

New York dan Los Angeles pun pernah mengembangkan jenis kencan yang mengandalkan indera penciuman, yang dengan ‘Pheromone Parties’. Para peserta diminta menyerahkan kaus yang mereka gunakan untuk tidur ke peserta lain dan memilih aroma yang mereka suka.

“Banyak orang dapat mendeteksi perbedaan kimia yang sangat kecil melalui hidung. Ini bisa juga dijadikan pemeriksaan kesehatan awal,” ujar Martha McClintock, pendiri Institute for Mind and Biology di University of Chicago. (tety)

Leave a Comment