“Desain dan craft adalah DNA bangsa ini,” katanya. “Kita punya jiwa yang selalu dikenali dunia.” Maka HIMKI mendorong lahirnya pusat desain unggulan, penguatan brand Made in Indonesia, dan kolaborasi antara desainer dan pengrajin di setiap daerah.
Tidak hanya soal kreativitas, daya saing juga ditentukan oleh kelancaran logistik. Pelabuhan Patimban dan Kertajati, bagi HIMKI, bukan sekadar infrastruktur, tetapi pintu baru yang dapat membuat biaya ekspor lebih ringan. Sobur ingin keduanya menjadi simpul strategis agar barang produksi Jawa Barat – yang menjadi salah satu pusat manufaktur – tak lagi terhambat oleh jarak dan kendala pengiriman.
Ia berharap layanan ekspor-impor diperluas, konektivitas transportasi diperkuat, dan para eksportir diberikan dorongan nyata agar hub nasional benar-benar hidup.
Di penghujung pertemuan, Sobur merangkum harapan HIMKI ke dalam tiga arah besar: kebijakan yang benar-benar melindungi industri dalam negeri, peningkatan kualitas dan daya saing melalui teknologi dan sumber daya manusia kreatif, serta perluasan pasar global yang didukung distribusi yang kuat. Dengan langkah-langkah itu, ia percaya Indonesia bisa membawa industri mebel dan kerajinan melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan—tetapi menjadi juara.
Dengan nada optimis namun tegas, ia menutup pidatonya. “Jika pemerintah memberi kami karpet merah, kami siap mengibarkan karpet merah putih di pasar dunia.” Sebuah kalimat yang membuat ruangan itu hening sejenak, lalu disambut tepuk tangan panjang.
Di Solo, hari itu, bukan hanya rencana yang dibicarakan. Ada tekad, ada semangat, ada keyakinan bahwa industri mebel dan kerajinan Indonesia masih memiliki masa depan yang cerah—asal semua pihak berjalan bersama, menjaga napas industri kreatif yang telah lama menjadi kebanggaan bangsa. (aryodewo)
