31/01/2026
AktualEkonomi

Suara dari Solo: Menjaga Napas Industri Mebel Indonesia

POSSORE.ID, Solo — Pagi itu, Solo terasa lebih hangat dari biasanya. Di salah satu sudut Hotel Alila, ratusan pelaku industri mebel dan kerajinan duduk dengan ekspresi penuh harap. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa cerita tentang usaha yang lahir dari tangan-tangan terampil dan kreativitas yang diwariskan turun-temurun.

Di tengah ruangan, Abdul Sobur, Ketua Umum HIMKI, berdiri dengan sikap tenang namun suara yang sarat tekanan emosional. Ia membuka pembicaraan dengan nada lembut tentang betapa besarnya peran industri mebel dan kerajinan bagi ekonomi kreatif negeri ini. Industri yang tumbuh dari rumah-rumah kecil di desa, bengkel sederhana di pinggir kota, hingga brand nasional yang telah dikenal dunia.

Pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himpunan Industri Mebel dań Kerajikan Nasional (HIMKI) 2025 di Hotel Alila Solo, Kamis (4/12)

Namun, Sobur mengingatkan, sebesar apa pun potensi itu, tanpa keberpihakan pemerintah, Indonesia bisa semakin tergeser oleh arus persaingan global yang semakin tak ramah. “Kami tidak meminta perlakuan istimewa,” ujarnya dengan nada jujur. “Kami hanya ingin kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar global yang sudah berubah dan tidak lagi seimbang.”

Kata-kata itu terasa sebagai seruan dari industri yang selama ini bertahan dengan kekuatan sendiri. Isu yang paling terasa mengusik para pelaku UMKM adalah beban kepatuhan yang semakin berat. Banyak aturan baru yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan, tetapi tanpa diferensiasi, UMKM justru menjadi pihak yang paling rentan.

Sobur menegaskan, transisi hijau tidak boleh menjadikan para pengrajin kecil sebagai tumbal. Pemerintah harus hadir, bukan sekadar mengawasi dari kejauhan sebagai penonton, tetapi menjadi fasilitator yang membuka jalan dan memberi perlindungan.

Di tengah arus global, gelombang tantangan semakin besar. Produk dengan harga sangat rendah terus membanjiri pasar internasional, sementara negara lain bergerak agresif memanfaatkan perjanjian perdagangan untuk membuka jalan lebih lebar bagi industrinya. Sobur mengingatkan, Indonesia bukan kalah kualitas, tetapi bisa kalah karena tidak mampu bersaing dalam kecepatan dan efisiensi.

Ia mendorong pemerintah untuk memastikan pasar utama memberi ruang yang lebih adil bagi produk Indonesia dan menindak tegas praktik impor yang merugikan. Namun di balik tantangannya itu, Sobur kembali mengingatkan tentang keunggulan paling berharga yang dimiliki Indonesia: kreativitas. Desain yang lahir dari budaya, kerajinan yang sarat cerita, dan detail yang tidak bisa ditiru oleh mesin mana pun.

Leave a Comment