Oleh Tony Rosyid
Minggu kemarin, 2 Agustus 2020, ada deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) .Deklarasi ini digagas oleh sejumlah tokoh nasional yang selama ini dikenal sangat kritis terhadap pemerintah.
Lahirnya KAMI merupakan tindak lanjut dari 9 tokoh diambil. Semula 9 tokoh, sekarang bertambah dan semakin bertambah
9 tokoh itu adalah Abdullah Hehamahua, Emha Ainun Najib, Din Syamsudin, Gus Najih, Habib Rizieq, Rizal Ramli, Refly Harun, Rocky Gerung dan Said Didu.
Dari 9 tokoh itu, kini diputar sudah semakin banyak. Ada dari militer seperti Gatot Nurmantyo. Ada juga Rahmawati Soekarno Putri. Ada ekonom Ichsanudfin Nursy. Ada aktifis seperti Syahganda Naenggolan, Ahmad Yani, Habib Muchsin, Habib Smith Alhaddar, MS Ka’ban, Jumhur Hidayat, Sri Bintang Pamungkas dan Chusnul Mar’iyah.Ada juga dari tokoh NU yaitu Djoko Edy dan Rachmad Wahab.
Berdirinya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Lalu, mau menyelamatkan Indonesia dengan cara apa?
Dari banyak komentar sejumlah tokoh yang tergabung dalam KAMI, tampak kesimpulan Indonesia sedang menuju ke arah yang salah. Bisa hancur karena cara yang keliru dalam mengelola negara. Zig zag dan tergantung ugal-ugalan.
Bermula dari perijinan infrastruktur yang membuat perizinan pembatalan yang luar biasa. Sekitar 7000 T. Korupsi semakin masif yang diterbitkan oleh BUMN bangkrut. Terbit UU yang “dicurigai” untuk melindungi para koruptor dan perampokan negara. Terutama revisi UU KPK, UU Corona dan UU Minerba.Belum lagi RUU Omnibus Law. Cipta Karya yang semakin memangkas hak – dan memiskinkan- buruh.
Lahirnya KAMI adalah bagian dari bentuk perbaikan atas bangsa yang semakin hari semakin terpuruk.
Penguasa dengan semua aturan dan kebijakannya lebih menentukan berpihak pada korporasi, dari pada pada persetujuan nasib rakyatnya sendiri.
Tanpa UU Corona, UU Minerba dan RUU Omnibus Law, kehidupan rakyat sudah sangat berat. Lahirnya jumlah UU dan RUU ini membuat kehidupan rakyat semakin dipertanyakan. Belum lagi hukum yang mengembalikan orang-orang seperti Djoko Tjandra, Harun Masiku dan Abu Janda. Representasi dari konglomerasi, partai pengusung dan kelompok pendukung. Halo E-KTP?
Terkini adalah RUU HIP. MUI dan lebih dari 200 ormas yang ditolak RUU ini karena disetujui sebagai upaya untuk memberi peluang naiknya komunisme. Tapi, pemerintah dan fraksi PDIP nampaknya kekeh dan tetap akan mensukseskan RUU HIP ini. Meski kali ini diwacanakan dengan nama RUU BPIP.
Belum lagi mempraktikkan politik yang menganut asas “demokrasi terkendali”. Semua dikontrol, baik melalui Undang-undang atau aparat.
Dari semua yang disetujui ini, lahirlah KAMI. Dari segi nama, gerakan ini fokus untuk menyelamatkan bangsa. Bagaimana cara menyelamatkannya? Menasehati dan kritik pemerintah? Sudah. Demo setiap hari ? Sering sekali.Apakah penting? Tidak! Lalu Apakah mau mengganti presiden dengan memintanya mundur? Pasti presiden gak bakal mau. Bisa-bisa dipertimbangkan makar.
Tapi berlebihan, dihargai para tokoh nasional dari berbagai bangsa ini akan menjadi perhatian khusus untuk rakyat Indonesia saat ini. Lebih dari jumlah tokoh semakin banyak dan semakin banyak dukungan dari rakyat, maka semua dukungan bisa terjadi.
Jakarta, 3 Agustus 2020
